Taqwa Sebagai Tujuan Puasa dan Hikmah di Dalamnya

At-Taqwa menjadi satu-satunya tujuan sekaligus hikmah terdalam dari ibadah puasa di bulan Ramadhan, sebagaimana firman Allah dalam Qur’an surah Al-Baqoroh: 183 :
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”

Adalah wajar orang  bertanya-tanya tentang hubungan korelasional antara taqwa dengan puasa. Adakah keterkaitan menahan lapar dan dahaga dengan taqwa? Taqwa seperti apa yang sebenarnya dimaksudkan? Permasalahan taqwa dan puasa inilah yang dikupas tuntas ustadz Ahmad Cholil, M. Fil. I bersama para Mantri (Mahasiswa Santri) dalam ngaji rutinan Jum’at malam (12/7) di Pesantren Global Tarbiyyatul Arifin di Mangliawan, Pakis, Malang.

Puasa, ungkap Ahmad Cholil, memiliki kaitan yang erat dengan taqwa karena bertaqwa merupakan satu sikap di mana seseorang secara konsekuen mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, baik saat  sedang sendiri, bersama orang lain, di tempat ramai maupun sedang sendiri di tempat sepi. Dengan demikian, seseorang yang bertaqwa selalu merasa diawasi oleh Allah SWT, di mana hal itu  memberikan implikasi kepada setiap gerak-gerik, tutur kata, lintasan pikiran,  dan tindak-tanduk yang penuh kewaspadaan dan hati-hati.

Seorang yang taqwa, ungkap Ahmad Cholil,  tidak pernah bertindak munafik. Orang yang taqwa tidak akan pernah menjadi manusia yang mengenakan topeng, di mana saat berada di hadapan banyak orang tersenyum manis, bersikap lembut dan penuh kasih sayang, akan tetapi saat semua mata yang memandangnya telah pergi, perilaku yang ditunjukkannya justru sebaliknya; kasar, suka mencaci, sinis, dan suka mengumpat, selalu menggerutu. Seorang yang taqwa, lanjut magister filsafat Islam itu, tidak  pula  menunjukkan sikap riya’, di mana di hadapan semua orang memperlihatkan perilaku yang rajin, baik dalam beribadah maupun bersosial agar dianggap sebagai orang baik, sholeh dan dermawan, padahal semua itu tidak lebih untuk pamer guna memperoleh pujian. Oleh karenanya, sambung Choliq, puasa menjadi satu ‘medan tempur’ untuk melatih seseorang agar mampu membebaskan diri dari semua keburukan (penyakit hati) tersebut.

Puasa maknanya adalah menahan diri dari sesuatu baik yang bersifat fisik seperti makan dan minum maupun yang non-fisik seperti menahan syahwat, keinginan menggunjing, marah, iri hati, hasut, dengki, sombong, dan anasir nafsu yang lain.  “Karena itu, Puasa  mengajari dan membiasakan kita untuk hidup tidak enak.” jelas Cholil yang sehari-hari mengajar Ilmu  Tasawuf di UIN Maliki itu,”Sebab keenakan atau kesenangan sejatinya hanya hasrat untuk menurutkan nafsu belaka. Padahal, nafsu itu jika  tidak dikekang dan tidak dikendalikan akan menguasai dan mengendalikan tuannya (manusia), sehingga mereka yang hidup mengikuti nafsunya akan terjerembab ke dalam kehancuran.

Makan dan minum memang merupakan kebutuhan pokok manusia, ungkap Ahmad Cholil, di mana tanpa keduanya mustahil manusia akan mampu bertahan hidup. Namun dengan berpuasa  manusia diajari untuk melatih menahan diri untuk tidak makan dan minum dari pagi hingga senja. Puasa melatih untuk bersabar menahan  rasa haus dan lapar sampai kita merasakan bagaimana sengsaranya orang miskin, gelandangan yang bahkan sering tidak bisa menikmati sesuap nasi selama berhari-hari. Dari sini, lanjut Cholil, diharapkan puasa akan menjadikan orang yang kaya untuk merasa empati, tenggang rasa,  dan kemudian berderma kepada yang tak punya, sehingga tak lagi ada istilah orang mati kelaparan di tengah tetangga-tetangga yang kaya.

Salah satu akibat puasa, seseorang yang tak makan dan tidak minum, kekuatan fisiknya akan  menurun sehingga kurang semangat seperti biasanya. Pandangan itu dikemukakan oleh Arief, seorang mantri Pesantren Global yang bertanya, “Bukankah puasa telah membuat orang lemas, karena badan terasa lemah,di mana  banyak pekerjaan yang  berkaitan dengan kehidupan sosial jadi terbengkalai. Padahal ada hadits berbunyi shuumuu tashihhu, bagaimana interpretasi dari hadits itu?”
Tak dapat dipungkiri, papar Cholil, bahwa saat  berpuasa tubuh kekurangan suplay energi.  Saat itulah diri kita tengah diuji. Meski sedang berpuasa, kita tak boleh menampakkan bahwa kita sedang berpuasa. Meski tubuh lemas, namun manusia masih memiliki kekuatan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan ringan. Islam telah mengatur hal tersebut sedemikian rupa, bahwa orang-orang yang bekerja berat ada rukhshoh baginya. Hal ini membuktikan betapa Islam “yassir wa laa tu’assir”, papar dosen  asal Banyuwangi itu kepada para mantri.

“Terkait kesehatan jasmani sebagai salah satu hikmah dari puasa, akan lebih tepat jika dokter yang berbicara. Tapi setidaknya telah teruji bagaimana puasa itu menyehatkan. Buktinya orang kalau mau dioperasi diwajibkan berpuasa terlebih dahulu.” ucap ustadz Kholil disambut anggukan para mantri.
Terkait interpretasi hadits shuumuu tashihhu, Haris ‘Sule’ Suhud, salah satu mantri turut urun pendapat, di mana menurutnya, sehat sebagai hikmah dari puasa yang dimaksud adalah sehat bersifat ruhaniah. Seseorang yang berpuasa, sambung Haris, ruhaninya akan sehat, karena ia menahan diri dari nafsu-nafsu dan membersihkan  berbagai penyakit hati.

Interpretasi Haris ‘Sule’ Suhud diamini oleh ustadz Ahmad Cholil dengan penjelasan bahwa dalam ilmu tasawuf, seseorang yang berpuasa akan  mudah mengasah hati untuk kian bersih dan tajam.  Dalam puasa, lanjut Cholil, terjadi proses takholli, tahalli dan tajalli yang kesemuanya lebih mudah digapai justru pada saat diri sedang lemah. Hal itu senada dengan yang disampaikan pengasuh Pesantren Global tarbiyyatul Arifin,  Agus Sunyoto dalam ngaji selasa (9/7) lalu, di mana pada  saat puasa akal dan pancaindera kita melemah, tetapi justru  saat itulah  dzauq atau rasa dalam diri kita menjadi lebih tajam, karena anasir-anasir bersifat intuitif dalam diri kita tereskplorasi potensinya sampai muncul kesadaran bashirah yang menjadikan manusia mencapai tahap ruhani Adam Ma’rifst, yakni tahap paling fitrah manusia.
         
Posted by Tina Siska Hardiyansyah

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Taqwa Sebagai Tujuan Puasa dan Hikmah di Dalamnya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel