AL-MIHRAB: Seputar Tahlilan dan Kenduri

Oleh: Ustadz Nadzirien

Tahlilan menurut bahasa merupakan kalimat mashdar dari fi'il madli "Hallala - Yuhallilu - Tahlilan", yang bermakna : membaca kalimat Laa Ilaaha Ilaallah. Tahlilan adalah amalan dzikir dan munajat kepada Allah swt, yang di dalamnya berisi pembacaan ayat-ayat al-Quran, kalimah tahlil, tahmid, takbir, tasbih dan shalawat, serta do'a-do'a lainnya, yang diperuntukan untuk orang-orang yang telah meninggal dunia. Semua itu merupakan amaliyah yang tidak bertentangan sedikit pun dengan syariat Islam bahkan dianjurkan. Dengan latar belakang inilah, kemudian amalan ini dinamakan tahlilan, karena di dalamnya banyak dibaca kalimat thayyibah (tahlil). sebagaimana penamaan sholat tasbih, karena di dalamnya banyak sekali bacaan tasbih (300 kali).

Sedangkan kenduri adalah sedekah makanan dalam "tahlilan", yang pahalanya ditujukan untuk orang yang meninggal dunia (mayit). Biasanya dilakukan selama 7 hari, hari ke 40, hari ke 100, setahun meninggalnya (haul) dan hari ke 1000.

Adapun istilah 7 hari dalam kenduri berdasarkan hadist riwayat Imam Thawus tercantum dalam kitab Al Hawi juz II hal 178 : "Seseorang yang mati akan memperoleh ujian dari Allah SWT dalam kuburnya selama 7 hari. Untuk itu, sebaiknya mereka (yang masih hidup) mengadakan jamuan makan (sedekah) untuknya selama hari-hari tersebut".

Sahabat Ubaid ibn Umair berkata : "Orang mukmin dan orang munafiq sama-sama akan mengalami ujian dalam kubur. Bagi mereka orang mukmin akan memperoleh ujian selama 7 hari, sedangkan bagi orang munafiq selama 40 hari".

Hadist tersebut termasuk dalam kategori hadist shahih menurut penilaian 3 imam (Maliki, Hanafi, dan Hambali) yang telah dijadikan hujjah mutlak dan sudah diamalkan semenjak zaman para sahabat hingga para tabi'in.

Adalah asumsi yang keliru jika dikatakan bahwa peringatan 7 hari kematian dalam kenduri semata-mata murni diambil dari budaya Hindu. Padahal, dalam agama Hindu tidak ada peringatan untuk orang mati pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, ke-1000. Dalam agama Hindu, orang mati pada tahun ke-12 setelah kematian yang disebut upacara Sraddha.

Sedangkan penentuan hari ke-7, ke-40, ke-100, setahun (khaul) , ke-1000  dan seterusnya, termasuk tradisi yang sama sekali tidak bertentangan dengan Islam, karena sesungguhnya sedekah makanan dan membaca  dzikir itu sunnah dilakukan kapan saja. Bahkan di Makkah dan Madinah tradisi kenduri 7 hari sudah ada sejak dahulu kala, sebagaima kesaksian Syaikh Muhammad Nur Bugis (beliau ini murid dari ulama-ulama besar di Makkah), di dalam kitab "Kasyful Astaar" (kitab yang khusus membahas kegiatan tahlilan dan kenduri), dengan menukil perkataan Imam As-Suyuthi: "Sungguh kabar tentang kenduri selama 7 hari telah sampai kepadaku dan aku menyaksikan sendiri bahwa tradisi ini telah berlaku di Makkah dan Madinah berkelanjutan hingga aku kembali ke Indonesia (tahun 1947 M- 1958 M). Faktanya amalan itu tidak pernah ditinggalkan sejak zaman sahabat Nabi hingga sekarang, dan mereka menerimanya dari para salafush Shaleh sampai masa awal Islam. Ini dinukil dari perkataan Imam al-Hafidz A-Suyuthi".

Imam al-Hafidz As-Suyuthi sendiri berkata : "Disyaratkan memberi makan (shadaqah) karena ada kemungkinan orang yang mati memiliki dosa yang memerlukan sebuah penghapusan dengan shadaqah dan lainnya, maka jadikanlah shadaqah itu sebagai bantuan untuk meringankan dosa agar dimudahkan menjawab pertanyaan, kebengisan dan gertakan Munkar Nakir di dalam kubur".

TENTANG PERJAMUAN MAKANAN

Memberikan penghormatan kepada para tamu yang berupa jamuan, itu juga merupakan kebajikan yang dianjurkan dalam Islam.
Dari Abi Hurairah, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda : "Barangsiapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, maka janganlah menyakiti para tetangganya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, hendaknya menghormati tamunya ... " (HR Muslim).

Seorang tamu yang keperluannya hanya sekedar bersilaturrahmu atau mengobrol saja harus diterima dan dijamu dengan baik, apalagi tamu yang datang untuk mendo'akan keluarga kita yang sudah meninggal, sudah sepantasnya lebih dihormati dan diperhatikan, hanya saja kemampuan finansial tetap harus menjadi prioritas utama, sehingga tidak boleh memaksakan diri untuk memberikan jamuan yang berlebihan dalam acara tahlilan, apalagi sampai berhutang ke sana ke mari, dalam kondisi seperti ini, sebaiknya perjamuan itu diadakan secara sederhana atau kala kadarnya.

SAMPAINYA DO'A DAN PAHALA AMALAN KEPADA ORANG YANG MENINGGAL DUNIA.

Di antara dalil-dalil yang dibuat pijakan tentang sampainya do'a dan pahala amalan yang dihadiahkan kepada orang yang sudah meninggal dunia (mayit) adalah sebagai berikut :

1. Firman Allah dalam surat Muhammad ayat 19 : "..dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu'min, laki-laki dan perempuan ..". Ayat ini menunjukan bahwa do'a atau permohonan oleh orang yang hidup bermanfaat bagi orang yang telah meninggal dunia serta mengandung perintah untuk memohonkan ampunan.

2. Hadist Nabi Muhammad Saw :
a. Dalam kitab Jami'us Shaghir juz II, hal. 178, tercantum sebuah hadist shohih : Dari Mu'aqqol ibn Yassar ra, Rasulullah Saw bersabda : "Barang siapa membaca surat Yasin karena mengharap ridlo Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Untuk itu bacakanlah surat Yasin untuk orang yang telah meninggal dunia di antara kalian". (HR. Al-Baihaqi).

b. Dari Abdullah bin Abbas ra bahwa Sa'ad bin Ubadah ibunya meninggal dunia ketika ia tidak ada di tempat, lalu ia datang kepada Nabi Muhammad Saw untuk bertanya : "Wahai Rasulullah Saw sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia sedangkan saya tidak di tempat, apakah jika saya bersedekah untuknya bermanfaat baginya?" Beliau menjawab "Iya". Sa'ad berkata, "Saksikanlah bahwa kebunku yang banyak buahnya itu aku sedekahkan untuknya" (HR. Bukhori).

c. Dari Auf bin Malikra, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Saw, setelah shalat jenazah berdo'a : "Ya Allah ampunilah dosanya, sayangilah dia, maafkanlah dia, tegarkanlah dia, muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah kuburannya, mandikanlah ia dengan air es dan air embun, bersihkanlah dari segala kesalahan sebagaimana kain putih yang dibersihkan dari kotoran, gantikanlah untuknya tempat tinggal yang lebih baik dari tempat tinggalnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, pasangan yang lebih baik dari pasangannya dan peliharalah dia dari siksa kubur dan siksa neraka" (HR. Muslim).

d. Imam an-Nawawi (ulama besar madzhab As-Syafi'i) dalam al-Adzkar menyebutkan : "para ulama' telah ber ijma' (bersepakat) bahwa do'a untuk orang yang telah  meninggal dunia itu bermanfaat dan pahalanya sampai kepada mereka". Mereka mengambil dasar dari firman Allah dalam surat Al-Hasyr ayat 10 : "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), berdo'a : Ya Tuhan kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman yang telah beriman lebih dahulu daripada kami."    
Sementara itu dalam hadits-hadits yang masyhur Nabi Muhammad Saw berdo'a : "Ya Allah ampunan kepada ahli perkuburan baqi". Beliau juga berdo'a: "Ya Allah berikanlah ampunan kepada yang masih hidup dan yang sudah meninggal di antara kami".
Semoga bermanfaat, aamiin !
Wallahu A'lam

Berlangganan update artikel terbaru via email:

1 Response to "AL-MIHRAB: Seputar Tahlilan dan Kenduri"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel