POST HEGEMONY II : Nekolim Abad ke-21 Dibalik Politik Isu HAM - Sesi 4

IV. Indonesia dalam Telikungan Nekolim

Hasyim Wahid dalam buku kecil berjudul "Telikungan Kapitalisme Global Dalam Sejarah Kebangsaan Indonesia" (1999) memaparkan sebuah analisis bahwa kekuatan Kapitalisme Global telah menjalankan skenario Neo Imperialismenya di Indonesia dengan memanfaatkan  kebijakan pemerintah yang disebut Paket Oktober 1988 (Pakto 88), di mana saat itu pemerintah memberikan kebebasan kepada BUMN dan Swasta Nasional untuk membuat hutang ke luar negeri dengan jaminan comercial paper dari pemerintah. Kebijakan Pakto 88 itu, menurut Hasyim Wahid,  diikuti pembentukan Panitia Kredit Luar Negeri (PKLN) pada 1992 yang bertujuan membatasi jumlah hutang luar negeri BUMN dan Swasta Nasional, di mana hutang yang dijamin oleh pemerintah hanya hutang pada periode jatuh tempo lima tahun ke depan.

Tahun 1996 – menjelang jatuh tempo pembayaran utang luar negeri BUMN dan Swasta Nasional yang dijamin pemerintah --  secara tiba-tiba mata uang rupiah diperdagangkan di bursa keuangan dunia, dan ternyata diborong  oleh para spekulan (belakangan diketahui bahwa spekulan tersebut  adalah George Soros dan kawan-kawan). Dalam tempo singkat sejak rupiah diperdagangkan,  mata uang rupiah yang diborong spekulan Soros tiba-tiba ‘tumpah’  di bursa keuangan, sehingga sesuai hukum pasar, kurs rupiah terhadap dolar anjlok dari nilai 3.236 rupiah per US dolar menjadi 7000, 9000, 10.000, bahkan mencapai 17.000 rupiah per US dolar. Merosotnya nilai rupiah dan sebaliknya melambungnya nilai kurs US dolar, mengguncang perekonomian Indonesia, terutama membuat bangkrut BUMN dan Swasta Nasional yang memiliki hutang luar negeri besar. Demikianlah tahun 1997, menjadi tonggak bagi terpuruknya Indonesia  ke situasi krisis moneter (krismon) yang berlarut-larut.

Di tengah krisis moneter itu, Presiden Soeharto terpaksa menandatangani  Letter Of  Intens dengan Michael Camdessus dari IMF yang berujung pada terbentuknya Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang diawasi Standard Chartered Bank dan Citybank,  di mana  lewat lembaga BPPN, aset-aset BUMN dan Swasta Nasional yang tak mampu membayar hutang luar negeri diambil-alih oleh BPPN, kemudian aset-aset BUMN dan Swasta Nasional itu oleh BPPN  dijual (dengan istilah privatisasi) kepada para  pemilik kapital dari negara-negara industri maju. Guna memuluskan skenario penjualan  aset-aset BUMN dan Swasta Nasional, kaki tangan kapitalisme global yang ada di lingkaran eksekutif dan legislatif melakukan berbagai kebijakan bersifat deregulatif – termasuk mengamandemen UUD 1945 dan membuat undang-undang tentang penanaman modal asing dan pengelolaan sumber daya air – yang mempermudah penguasaan aset-aset tersebut oleh pemilik kapital.

Sementara kalangan intelektual, media massa, LSM, dan akademisi berperan dengan sangat baik dalam  usaha-usaha penopang imperialisme dengan "mengamankan" dan "mengawal" program-program kapitalisme global di dalam berbagai perdebatan wacana di tanah air. Demikianlah,  fakta sejarah menunjuk bahwa melalui BPPN yang dikontrol Standard Chartered Bank dan Citybank,  raksasa-raksasa kapitalis dunia seperti Caltex, Shell, Exxon Mobile, British Petroleum, Chevron, Amerada Hess, Standard Mobile Oil, Marathon, Gulf Union Oil mengambil -alih   aset nasional di bidang pertambangan minyak dan gas, Freeport dan Newmont mengambil-alih semua aset nasional di bidang pertambangan emas dan tembaga, Cement Mexico mencaplok semua aset nasional di bidang produksi semen, Phillip Morris, British American Tobacco, Soros Corp membeli aset nasional di bidang rokok, cengkeh dan tembakau, ABN Amro Bank, Citybank, Standard Chartered, Chemical Bank, Chase-Manhattan Bank, Federal Reserve Bank membeli aset nasional di bidang perbankan, bahkan Golden Missisipi, Nestle, Danone mendominasi penguasaan komoditi air dalam kemasan seperti  Aqua, Ades, Aquades, Club, Cheers, Cleo, dsb.
Lanjut ke Sesi 5 => DISINI

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "POST HEGEMONY II : Nekolim Abad ke-21 Dibalik Politik Isu HAM - Sesi 4"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel