POST HEGEMONY II : Nekolim Abad Ke-21 Dibalik Politik Isu HAM - Tamat

VI. Problem Serius  Masyarakat  di era Global

Di tengah arus perubahan besar  era global sebagaimana terurai di muka,   masyarakat Indonesia yang  dikenal sebagai komunitas tradisional yang hidup guyub-rukun, sederhana, rajin, gotong-royong,  religius, dan meyakini bahwa negara beserta aparaturnya adalah wahana suci yang bakal membawa keadilan dan kemakmuran bagi mereka, ternyata telah terlempar ke suatu kenyataan hidup yang menyedihkan sebagai komunitas bangsa dari negara pinggiran (periphery) yang miskin, terlilit utang luar negeri, tidak memiliki cukup aset  nasional lagi,  tidak memiliki wacana independen, dan sangat tergantung kepada negara-negara industri maju yang menjadi negara pusat (core). Fakta menunjuk,bangsa Indonesia, yang secara ideal di dalam preambule UUD 1945 dikatakan bebas dan berdaulat, ternyata telah berubah menjadi komunitas buruh bermental cargo cult  sekaligus konsumen utama dari arus barang-barang produksi dari negara-negara kapitalis global, yang ironisnya diproduksi dari kekayaan alam Indonesia.

Tampaknya, di dalam sistem ekonomi pasar bebas yang menandai era global, masyarakat Indonesia tanpa sadar telah terseret oleh arus barang-barang dan produk-produk ciptaan kapitalis global. Akibat dari sistem pasar bebas itu,  tanpa sadar bagian terbesar masyarakat Indonesia telah terperangkap ke dalam lingkaran sistem konsumsi  berdasar  utang yang sengaja ditebar lewat counter-counter hp, developer perumahan, showroom motor dan mobil, toko elektronik, toko computer, toko khusus kredit, bank perkreditan rakyat, dsb. Dalam konteks inilah, terjadi proses pemelaratan masyarakat Indonesia, di mana rata-rata masyarakat Indonesia terlilit lingkaran setan utang bunga-berbunga yang tak diketahui ujung dan pangkalnya.

Di tengah arus globalisasi, anak-anak bangsa yang idealnya terhormat dan bermartabat terbukti jatuh terpuruk dalam kehinaan –  akibat  kebijakan pemerintah yang terkait ketenaga-kerjaan --  di mana mereka itu dari waktu ke waktu mengalir ke luar negeri sebagai tenaga kerja rendahan berstatus  jongos, kacung, babu, kuli, pelayan, babby sitter, tukang, sopir,  dan buruh kasar. Anak-anak bangsa yang berusaha melakukan survival of the fittest di negeri sendiri dengan menjadi pedagang kaki lima, misal, harus menghadapi kekerasan dan penistaan oleh petugas ketentraman dan ketertiban. Bahkan usaha kecil menengah yang dirintis anak-anak bangsa dalam usaha bertahan hidup, dipaksa untuk gulung tikar oleh kebijakan-kebijakan sepihak yang dilakukan oleh pemerintah dalam bentuk peraturan-peraturan yang memihak kepada pemilik kapital raksasa dan anti modal gurem. Melalui perundang-undangan dan peraturan-peraturan yang dibikin elit legislatif maupun eksekutif – yang selalu mengatas-namakan kepentingan rakyat – terjadi diskriminasi terhadap orang-orang tak terdidik dan tak berkapital.

Fakta menunjuk, bahwa di era global bagian terbesar dari bangsa Indonesia yang dididik di sekolah  tidak mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi karena berbagai alasan yang intinya adalah diskriminasi terhadap individu-individu tak berkapital. Tragisnya, mereka itu  rata-rata tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi tantangan realita sesuai tuntutan golbalisasi, di mana mereka itu akhirnya dipaksa oleh keharusan untuk menjadi  penganggur, gelandangan, pengemis, pengamen, polisi cepek, tukang parkir, tukang tagih, preman, pengguna narkoba, pelaku kriminalitas, dsb.  Jumlah mereka ini,  makin lama akan makin membesar yang jika tidak dicarikan jalan keluar akan meledak menjadi konflik sosial bersifat anarkis. Tampaknya, inilah problem serius yang harus dipecahkan oleh anak-anak bangsa Indonesia di era global yang sangat liberal, di mana bagian terbesar saudara-saudara mereka berada pada kondisi   ibarat kawanan anak-anak ayam kehilangan  induk yang berlari tak tentu arah untuk menghadapi tuntutan hukum alam – survival of the fittest – yang bermuara ke satu fenomena mendasar, yaitu : mampu bertahan hidup atau punah!



DAFTAR PUSTAKA 

Baudrillard, J., In The Shadow of the Silent Majorities, New York: Semiotext (e), 1983.
Bartolovich, C & Neil Lazarus, Marxism, Modernity and Postcolonial Studies, Cambridge:Cambridge University Press, 2002.
Chase-Dunn, C., Global Formation: Structures of the World-Economy, 1998.
Chomsky, N., Hegemony or Survival: America’s Quest for Global Dominance, Crows NestNSW: Allen & Unwin, 2004
Davidson, H.R.E., Gods and Myths of Northern Europe, New York: Penguin Books, 1982.
Grimes, P., “Recent Research on World Systems” dalam Thomas D. Hull (ed.), A World Systems Reader: New Perspective on Gender, Urbanism, Cultures, Indigenous Peoples, andEcology, 2000
Hadjinicolaou, N., Art History & Class Struggle, London: PlutoPress,  1978.
Hull, T.D., “World-Systems Analysis: A Small Sample from a Large Universe” dalam Thomas D.Hull (ed.), A World Systems Reader: New Perspective on Gender, Urbanism, Cultures,Indigenous  Peoples, and Ecology, 2000.
Huntington, Samuel P., The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, London:Touchstone Books, 1996.
O’Connor, J., ‘The Meaning of Economic Imperialism’, dalam Michael Smith dkk (eds.),Perspective  on World Politics, 1981.
Ritzer, G., Sociological Theory, New York: McGraw Hill Company, 1996.
Rowbotham, M., Goodbye America: Globalisation, Debt and The Dollar Empire, 2000.
Sartre, J. P., Existensialism and Human Emotion, New York: Philosophical Library, 1964.
Soros, G., On Soros : Staying Ahead of The Curve, New York: John Willey & Sons, 1995.
Tuathail, G. O. & Simon Dalby, Rethinking Geopolitics, 1998.
Wahid, H., Telikungan Kapitalisme Global Dalam Sejarah Kebangsaan Indonesia, Yogyakarta:LKiS, 1999.
Wallerstein, Immanuel, The Modern World System II: Mercantilism and the Consolidation of the European World Economy 1600- 1750, London: Academic Press, 1980.
__________________, The Modern World System III: The Second Era of Great Expansion of The Capitalist World Economy 1730-1840s,  London: Academic Press, 1989.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "POST HEGEMONY II : Nekolim Abad Ke-21 Dibalik Politik Isu HAM - Tamat"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel