POST HEGEMONY II : Nekolim Abad ke-21 Dibalik Politik Isu HAM - Sesi 1

Problem Bangsa Indonesia di Tengah Liberalisasi Sistem Dunia

I. Sekilas Tentang HAM Barat
Grafis karya seniman asal Turki Uğur Gallenkuş 
Human Right yang diterjemahkan dengan istilah Hak Azasi Manusia (HAM) sebagaimana dimaksud  para reformis yang mengusung isu tersebut pada perempat awal dasawarsa 1990-an, adalah sesuatu yang baru dalam budaya masyarakat Indonesia. Dikatakan baru, karena sejak kemerdekaan bangsa Indonesia sampai tegaknya rezim Orde Baru wacana  HAM belum pernah menjadi bahasan pokok di kalangan elit nasional. Secara kronologis, maraknya isu HAM beriringan dengan maraknya isu globalisasi seiring runtuhnya komunisme. Sejarah mencatat bahwa setelah Glasnost dan Perestroika digulirkan Michael Gorbachev yang diikuti gerakan reformasi di berbagai negara sosialis dan negara dunia ketiga, isu pelanggaran HAM di negara-negara tersebut mengedepan bersama isu-isu tunggal yang lain seperti  penguatan civil society, demokratisasi, gender, pluralisme, hukum, dan liberalisme. Isu-isu tunggal itu diusung oleh LSM-LSM, kalangan akademisi, intelektual, media massa, dan bahkan elit pemerintah di negara-negara sosialis dan negara dunia ketiga untuk melakukan reformasi terhadap konsep dan sistem kenegaraan mereka, termasuk Indonesia. Tragisnya, seluruh wacana dan gerakan reformasi tersebut  berkiblat utuh dan bahkan didanai oleh negara-negara dunia pertama yang dihegemoni negara-negara kapitalisme Barat.

Isu tunggal HAM, civil society, demokratisasi, gender, pluralisme, hukum, dan liberalisme pada dasarnya adalah isu-isu yang secara sistematik  dirancang oleh negara-negara kapitalisme Barat  untuk menghegemoni kerangka pandang masyarakat di negara-negara dunia ketiga. Karena itu dapat difahami, berbagai isu tunggal tersebut  selalu dimaknai seutuhnya dengan sudut pandang Barat. Barat seolah menjadi pusat percontohan yang paling sempurna, sehingga segala sesuatu yang tidak sesuai dengan parameter Barat dianggap tidak beradab, otoriter,  tidak demokratis, tidak ilmiah, tidak rasional, tiranik, dsb. Kalangan elit di dunia ketiga, termasuk Indonesia, tidak sedikit pun memiliki sikap kritis terhadap Barat dalam konteks tersebut. Sebaliknya, mereka menjadi subordinat dari budaya Barat sehingga tidak memiliki kemandirian dan otentisitas dalam membangun wacana dan gerakan.

Ketidak-mampuan para elit di dunia ketiga dalam membangun wacana dan gerakan yang mandiri dan otentik, telah ditengarai  Jean-Paul Sartre sebagai akibat dari usaha-usaha kaum elit Eropa mencipta elit pribumi bermental subordinat, di mana elit Eropa mengambil remaja-remaja pribumi kemudian mencap mereka dengan “besi panas” prinsip-prinsip budaya Barat dan mengisi mulut mereka dengan frase indah dan kata-kata muluk, mereka “dicuci” menjadi putih, lalu semua kebohongan itu tanpa sisa sedikit pun diungkapkan oleh elit pribumi itu kepada saudara-saudara mereka. Mereka  hanya mengulang kembali apa yang mereka  peroleh.  Kaum intelektual dan akademisi di negara-negara dunia ketiga senantiasa dipaksa oleh ‘keharusan’ untuk menjadi elit konsumen yang menggunakan asumsi dasar, postulat, teori, bahkan  paradigma, dogma, dan doktrin yang sudah dikonstruksi sedemikian rupa oleh elit negara-negara Barat. Demikianlah, bagian terbesar dari elit pribumi di negara-negara dunia ketiga memiliki mental “cargo cult” yaitu mentalitas yang berasumsi “yang menjadi penyelamat saya adalah apa yang datang dari dunia di luar  saya.”

Mengikuti pandangan Pierre Bourdieu tentang struktur mental dan pengetahuan yang disebut habitus (George Ritzer, 1996), konsep Human Right yang disebarkan oleh negara-negara Barat memiliki kaitan dengan “produk internalisasi struktur” dunia sosial bangsa Eropah dalam merasakan, memahami, mengapresiasi, dan mengevaluasi dunia sosial mereka, yang dalam teori psiko-analisa Carl Gustaf Jung habitus tersebut mempengaruhi sikap dan tindakan manusia sebagaimana  Archetype. Habitus bangsa Eropa terbentuk oleh legenda-legenda, dongeng-dongeng dan mitologi Arian yang menyatakan bahwa ras mereka – tubuh tinggi, kulit putih, mata biru, hidung mancung,  rambut perang – adalah  ras keturunan tokoh bernama Manush putera Tuisto (Davidson, H.R.E., 1982). Maksudnya, di dalam Habitus  ras Eropa tersimpan asumsi bawah sadar  yang memaknai  keberadaan   manusia sebagai spesies keturunan tokoh Manush, di mana hal itu tercermin dari  kosa kata – kosa kata bahasa Arian yang memaknai kata ganti untuk  orang atau manusia yang  dikaitkan dengan nama Manush, leluhur mereka: Man, Hu-Man, Mensch, Mann, Manusa. Dengan demikian, di alam bawah sadar ras Arian tersembunyi keyakinan bahwa ras manusia yang bukan keturunan Manush akan dianggap bukan spesies manusia. Hanya ras yang memiliki tipologi fisik seperti Manush – berperawakan tinggi, berkulit putih, berambut perang, bermata biru, berhidung mancung – yang disebut manusia atau orang.

Bertolak dari pandangan Pierre Bourdieu ini, bangsa-bangsa Barat yang representatif adalah ras Arian keturunan Manush tidak akan pernah konsisten dalam memaknai Human Right sebagai konsep dengan prinsip-prinsip bersifat universal. Mereka akan selalu terperangkap ke dalam standar ganda dalam memaknai Human Right. Fakta sejarah mencatat, kapan dan bagaimana ras Arian melakukan ethnic cleansing di berbagai negara di Asia, Afrika, Amerika, Australia, dan bahkan di Eropa sendiri. Bahkan Bapak Kaum Proletar seperti Karl Marx membenarkan penjajahan Inggris atas India dengan argumen pemberadaban setelah “hancurnya model masyarakat Asiatik lama digantikan peletakan dasar-dasar material masyarakat Barat di Asia” (Bartolovich, C & Neil Lazarus, 2002).   Oleh sebab itu, hanya bangsa-bangsa bermental “cargo cult” yang ahistoris yang memuji-muji dan menilai tinggi Human Right yang dibikin dan didanai negara-negara Barat sebagai sesuatu yang mulia dan luhur bagi kemanusiaan sehingga wajib diterapkan sebagai bagian dari sistem berbangsa dan bernegara di negeri mereka.

Lanjut ke Sesi 2 => DISINI

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "POST HEGEMONY II : Nekolim Abad ke-21 Dibalik Politik Isu HAM - Sesi 1"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel