Memaknai Naskah Kuno AMANAT GALUNGGUNG

Oleh: Hasanuddin & Ramlan Maulana

Menggali kembali kearifan lokal berupa tradisi dan pengetahuan masa lalu dari peradaban Nusantara seolah membawa generasi masa kini bangsa ini pada “lorong kegelapan”. Gelap, karena literarur dan sumber sejarah yang memperkenalkan hal ihwal peradaban masa silam tersebut amat terbatas dan atau pula hanya beredar di kalangan terbatas. Pendidikan modern sebagai “warisan resmi”dari sejarah panjang kolonialisme telah menutup tabir kekayaan tradisi yang terkandung di bumi Nusantara. Demikian pula kebijakan Negara yang lebih dari tiga dasawarsa “anti tradisi” telah memutus mata rantai kesadaran (kearifan nilai) sejarah dari pangkuannya. Sehingga tak ayal generasi masa kini menjadi asing dan buta akan (sejarah) dan nilai-nilai tradisinya.

Masa lalu dianggap sebagai kisah kuno dan beban yang tidak memiliki relevansi dengan dunia masa kini. Berbicara kearifan lokal menjadi asing dari medan sejarahnya sendiri. dengan nada sinis, Budayawan Jakob Soemarjo menuturkan, kearifan lokal lantas menjadi liyan bagi mereka. Kearifan lokal dituduh sebagai takhayul dan mitos. Hidup masa kini harus serba logos Aristotelian. Akhirnya cara pandang “kebenaran tunggal” yang dipakai. Mau maju atau mau mundur? Mau menjadi masyarakat modern atau primitif? Percaya pada mitos atau logos? Kebenaran itu hanya satu yakni modernitas itu. Di luar itu, atau yang berseberangan dengan itu, adalah tidak benar. Kearifan lokal harus ditinggalkan kalau mau maju dan modern.

Menemukan kembali benang merah sejarah beserta perangkat tradisi, epos, ajaran, pengetahuan dan nilai-nilai warisan leluhur dari peradaban Nusantara merupakan keniscayaan di tengah kebuntuan dan kegagalan dari praktek pengelolaan hidup bersama yang tak kunjung bermakna. Bisa jadi, semua ketidakberesan yang ada saat ini karena kita abai dengan ajaran dan pitutur para leluhur dan lebih percaya dengan cara dan metode dari (tradisi) orang lain.

Logika modern, ilmu, teknologi, tidak cukup untuk memahami realitas Indonesia, karena Indonesia berada antara mitos dan logos. Bahkan cara berpikir mitos masih mendominasi cara berpikir rakyat. Bukan anti modernitas, tetapi membuat Indonesia memasuki dunia modern mondial ini memerlukan metodenya sendiri, jangan asal percaya dan menjiplak bangsa-bangsa lain. Bagaimana Anda dapat mengubah sesuatu menjadi sesuatu yang lain kalau tidak mengenali sesuatunya itu sendiri? Kebenaran universal itu memang ada, namun harus ditemukan dalam kearifan-kearifan lokal yang ribuan tahun sejarahnya.

Salah satu upaya menggali kearifan lokal Nusantara adalah dengan membuka dan mempelajari naskah lama atau manuskrip yang pernah ada. Di bumi Nusantara terdapat ribuan naskah atau manuskrip sebagai karya intelektual. Naskah ini memuat tentang ajaran moral dan tuntunan hidup, baik yang dibuat oleh seorang elit penguasa (raja), kelompok agamawan maupun masyarakat biasa. Ajaran ini diperuntukan bagi keturunan yang membuatnya maupun bagi masyarakat luas.

Salah satu kelompok etnik yang memiliki kekayaan tradisi dan terekam dalam naskah adalah kelompok etnik Sunda. Masyarakat etnik Sunda pada zaman nirleka sampai zaman klasik, sudah memiliki berbagai peraturan kemasyarakatan yang kala itu lajim disebut purbatisti purbajati atau sanghyang siksa kanda (ng) karesyian.  Di dalamnya terkandung nilai-nilai (value); nilai pengetahuan, nilai religi ‘keyakinan beragama’, nilai sosial, nilai ekonomi, nilai seni yang ditunjang oleh norma-norma dan aturan-aturan hukum. Di lingkungan masyarakat Urang Rawayan (Baduy) hal itu lazim mereka sebut “papaku”.

Identitas Naskah Amanat Galunggung

Amanat Galunggung adalah nama yang diberikan untuk sekumpulan naskah yang ditemukan di Kabuyutan Ciburuy, Kabupaten Garut, merupakan salah satu naskah tertua di Nusantara peninggalan karuhun Sunda. Naskah ini diperkirakan ditulis pada abad ke-15 pada daun lontar dan nipah sebanyak 7 lembar yang terdiri dari 13 halaman, menggunakan bahasa dan aksara Sunda Kuna. 

Di Kabuyutan Ciburuy, Garut hingga kini orang menyimpan naskah-naskah kuno. Salah satu naskah kuno yang ditemukan di kabuyutan itu—sebelum disimpan di Perpustakaan Nasional Jakarta—adalah ”Amanat Galunggung”. Nama atau judul ”Amanat Galunggung” berasal dari filolog Saleh Danasasmita, yang turut mengkaji naskah tersebut, kemudian turut mengkompilasikan hasil kajiannya dalam ”Sewaka Darma, Sanghyang Siksakandang Karesian, Amanat Galunggung” pada tahun 1987 yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Barat. Adapun Hidayat Suryalaga menyebut naskah ini dengan Amanat Prabu Guru Darmasiksa.   Penamaan ini nampaknya merujuk kepada pembuat ajaran yang terdapat pada naskah tersebut yakni Rakyan Darmasiksa, Raja ke 25 Kerajaan Sunda.

Sementara itu berdasarkan penelitian J.Noorduyn dan A.Teeuw, dua orang Sarjana Belanda, naskah ini disimpan dalam Kropak 632 bekas koleksi masyarakat Batavia. Bagian yang tersimpan hanya terdiri dari enam helai daun. Naskah ini berasal dari kabuyutan, yakni pusat kegiatan keagamaan yang bernama Ciburuy, Bayongbong, di wilayah Garut. Menurut mereka, naskah ini sebagai pelajaran keagamaan yang disampaikan oleh Rakean Darmasiksa.

Menurut Edi S Ekadjati, Isi dari Amanat Galunggung ini bukanlah tentang petunjuk teknis mengenai pemerintahan, melainkan berupa pemikiran filosofis bertalian dengan etika yang seyogyanya dipegang teguh dan dilaksanakan, terutama oleh pemimpin Negara dan pemimpin masyarakat. 
Sosok Prabu Guru Darmasiksa

Aktor utama dari ajaran yang termuat dalam amanat Galunggung adalah Prabu Guru Darmasisksa. Di dalam naskah Carita Parahyangan diceritakan, Darmasiksa, atau ada juga yang menyebut Prabu Sanghyang Wisnu memerintah selama 150 tahun. Sedangkan di dalam naskah Wangsakerta menyebut angka 122 tahun, yakni sejak tahun 1097 – 1219 Saka atau 1175 – 1297 M. Konon kabar sebagai bahan perbandingan ada 10 penguasa di Jawa Pawwatan yang sezaman dengan masa pemerintahannya. Ia naik tahta 16 tahun pasca Prabu Jayabaya (1135 – 1159) M, penguasa Kediri Jenggala Wafat, iapun memiliki kesempatan menyaksikan lahirnya Kerajaan Majapahit (1293 M).

Menurut Pustaka Nusantara II/2, Prabu Guru Darmasiksa pernah memberikan peupeujeuh – nasehat kepada cucunya, yakni Raden Wijaya, pendiri Majapahit, sebagai berikut :
Haywa ta sira kedo athawamerep ngalindih Bhumi Sunda mapan wus kinaliliran ring ki sanak ira dlaha yan ngku wus angemasi. Hetunya nagaramu wu agheng jaya santosa wruh ngawang kottman ri puyut kalisayan mwang jayacatrumu, ngke pinaka mahaprabhu. Ika hana ta daksina sakeng hyang Tunggal mwang dumadi seratanya.
Ikang sayogyanya rajyaa Jawa rajya Sunda parasparopasarpana atuntunan tangan silih asih pantara ning padulur. Yatanyan tan pratibandeng nyakrawartti rajya sowangsong. Yatanyan siddha hitasukha. Yan rajya Sunda duhkantara. Wilwatika sakopayanya maweh caranya : mangkana juga rajya Sunda ring Wilwatika.
Inti dari nasehatnya tersebut menjelaskan tentang larangan untuk tidak menyerang Sunda karena mereka bersaudara. Jika masing-masing memerintah sesuai dengan haknya maka akan mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang sempurna.

Jika diurut bibit buit Rakean Darmasiksa maka ditemukan muasal leluhurnya dari Kendan. Jika kita menyoal masalah Kendan tentunya tidak dapat dilepaskan dari Galuh, sehingga tak heran jika banyak masyarakat kita yang menafsirkan Amanat Galunggung ini terkait erat dengan nilai-nilai yang berlaku umum di Galuh pada waktu itu.

Sama halnya dengan alur Carita Parahyangan yang mengisahkan Galuh, dibuat pada abad ke 16, satu abad pasca Amanat Galunggung, naskah yang diberi nama Amanat Galunggung ini memulai ceritanya dari alur Kerajaan Saunggalah I (Kuningan) yang diperkirakan telah ada pada awal abad 8M.
Masa tersebut tentunya terkait dengan kisah perebutan tahta Galuh oleh sesama keturunan Wretikandayun, yakni antara anak-anak Mandi Minyak di satu pihak dan anak dari Sempak Waja dan Jantaka di pihak lain. Sehingga secara politis, Saunggalah merupakan alternatif untuk menyelesaikan pembagian kekuasaan di antara keturunan Wretikandayun, bahkan naskah ini menjelaskan sisi dan perkembangan keturunan Wretikandayun di luar Galuh.

Di dalam naskah Wangsakerta Bab Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa, diketahui nama Raja Saunggalah I bernama Resi Guru Demunawan. Kedudukan sebagai penguasa di wilayah tersebut diberikan oleh ayahnya, yakni Sempak Waja, putra dari Wretikandayun (pendiri Galuh). Resi Guru Demunawan merupakan kakak kandung dari Purbasora, yang pernah menjadi raja di Galuh pada 716-732M. Eksistensi dari Resi Demunawan, Sempak Waja dan Wretikandayun banyak diceritakan di dalam Carita Parahyangan, bahkan seangkatan dengan Sanjaya dan Balangantrang.

Memang Demunawan, leluhur Prabu Guru Darmasiksa memiliki keistimewaan dari saudara-saudara lainnya, baik sekandung maupun dari seluruh teureuh Kendan. Karena sekalipun tidak pernah menguasai Galuh secara fisik, namun ia mampu memperoleh gelar Resi Guru. Suatu Gelar yang tidak sembarangan bisa didapat oleh siapapun, sekalipun oleh raja-raja terkenal, tanpa memiliki sifat Satria Pinandita, bahkan pasca Salakanagara dan Tarumanagara, gelar ini hanya diperoleh Resi Guru Manikmaya, pendiri Kendan, Resi Guru Darmasiksa dan Resi Guru Niskala Wastu Kancana, Raja di Kawali.

Prabu Guru Darmasiksa pertama kali memerintah di Saunggalah I (Kuningan) kemudian memindahkan ke Saunggalah II, di daerah Tasik. Menurut kisah Bujangga Manik pada abad ke 15, lokasi lahan tersebut terletak di daerah Tasik selatan sebelah barat, bahkan kerajaan ini mampu mempertahankan kehadirannya setelah Pajajaran dan Galuh runtuh. Pada abad ke 18 nama kerajaan tersebut masih ada, namun setingkat Kabupaten, dengan nama Kabupaten Galunggung, berpusat di Singaparna. Mungkin sebab alasan sejarah penduduk Kampung Naga Salawu Tasik enggan menyebut Singaparna, merekapun tetap menyebut Galunggung untuk istilah Singaparna.

Kemudian Darmasiksa diangkat menjadi Raja di Kerajaan Sunda (Pakuan), sedangkan Saunggalah diserahkan kepada puteranya, yakni Ragasuci atau Sang Lumahing Taman.

Prabu Guru Darmasiksa adalah tokoh yang meletakkan dasar-dasar pandangan hidup secara tertulis berupa nasehat. Naskahnya disebut dengan Amanat Galunggung, disebut juga Naskah Ciburuy (nama tempat di Garut Selatan tempat ditemukannya naskah tersebut), disebut pula kropak 632, ditulis pada daun nipah sebanyak 7 lembar yang terdiri atas 13 halaman yang ditulisi menggunakan aksara Sunda Kuna.
  • Kandungan Amanat Galunggung

:: Konsepsi Kepemimpinan
Di dalam kata pengantar terjemahan naskah Amanat Galunggung menyatakan bahwa amanat Galunggung Kropak 632 menjelaskan tentang kedudukan Tri Tangtu Di Bumi yaitu, Rama-Resi-Ratu. Ketiga-tiganya mempunyai tugas yang berbeda, akan tetapi tidak dapat dipisah-pisahkan, tidak ada di antara mereka yang berkedudukan lebih tinggi dari yang lainnya. Tugasnya setara dan sama-sama mulia,  ketiga pemimpin tersebut harus bersama-sama menegakkan kebajikan dan kemuliaan melalui ucap dan perbuatan.

Pembagian tugas ini sebagaimana termuat dalam rekto III Amanat Galunggung :
Jagat Palangka di Sang Prabu,  jagat Daranan di Sang Rama,  jagat Kreta di Sang Resi.    Dunia kemakmuran tanggung jawab sang Rama, Dunia kesejahteraan hidup tanggung jawab sang Resi, Dunia pemerintahan tanggung jawab sang Prabu/Ratu.

Rama : Representasi dari unsur Tuhan yang dimanifestasikan dalam tugas Rama yaitu bidang Spritual, di mana seorang rama ini adalah manusia yang sudah meninggalkan kepentingan yang bersifat duniawi dan lahiriah, sehingga bisa menjaga rasa asih yang tinggi dan bijaksana.

Resi : Representasi dari unsur alam yang merupakan penyedia bagi kepentinagn kehidupan , maka para Resi merupakan ahli-ahli atau guru-guru di dalam bidang-bidang di antaranya pendidikan, militer ,pertanian, seni, perdagangan, dan lain sebagainya. Misinya adalah Asah.

Ratu : Representasi unsur manusia yang bertugas untuk mengasuh seluruh kegiatan dan kekayaan negara. Karena misinya adalah Asuh, maka di dalam tatanan Sunda para pemimpin ini disebut Pamong atau Pangereh dan bukan Pemerintah.

  • Kesadaran Sejarah
Dalam Amanat Galunggung ini membeberkan ajaran moral dan aturan sosial yang harus dipatuhi oleh urang Sunda. Namun, dalam naskah Amanat Galunggung ini terdapat baris-baris kalimat yang menyatakan pentingnya masa lalu sebagai “tunggak” (tonggak) atau “tunggul” untuk masa berikutnya, maka dari itu seyogyanya generasi kini harus tetap menghormati nilai-nilai yang diwarisi generasi sebelumnya. Berikut petikan dan terjemahannya:
Hana nguni hana mangke
tan hana nguni tan hana mangke
aya ma beuheula aya tu ayeuna
hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna
hana tunggak hana watang
tan hana tunggak tan hana watang
hana ma tunggulna aya tu catangna
(Ada dahulu ada sekarang
bila tidak ada dahulu tidak akan ada sekarang
karena ada masa silam maka ada masa kini
bila tidak ada masa silam tidak akan ada masa kini
ada tonggak tentu ada batang
bila tidak ada tonggak tidak akan ada batang
bila ada tunggulnya tentu ada catangnya)
Jangan menjadi bangsa yang ahistoris !


  • Kabuyutan
Dalam kajiannya, Hidayat Suryalaga mengidentifikasi salah satu muatan yang terkandung dalam naskah Amanat Galunggung di antaranya keharusan untuk menjaga kabuyutan dan pengaruh dari pihak luar (asing). Di antara ucapan Prabu Guru ini termuat dalam Verso I :
-Jaga beunangna kabuyutan ku sakalih (Jaga direbutnya /dikuasainya tanah laluhur oleh orang lain).
-Banyaga nu dek ngarebut kabuyutan (Akan banyak para pedagang yang ingin merebut tanah leluhur).
-Asing iya nu meunangkeun kabuyutan, (Yakni orang-orang Asing yang ingin merebut tanah leluhur).
-Mulyana kulit lasun di jaryan, modalna rajaputra antukna beunang ku sakalih (Lebih berharga kulit musang ditempat sampah daripada Rajaputra tidak mampu mempertahankan tanah leluhur yang direbut orang lain).

Hidayat mengartikan kabuyutan ini sebagai tanah air. Bila kabuyutan diartikan sebagai tanah air dari orang-orang yang hidup di dalamnya maka Darmasiksa dalam naskah Amanat Galunggung sedang berbicara tentang hal yang pokok (syarat keberadaan) dari sebuah masyarakat (yang disebut masyarakat Galunggung), yaitu kawasan. Dengan kata lain, Darmasiksa melalui teks di atas sedang mengatakan bahwasanya tanpa kepenuhan dalam hal penguasaan wilayahnya sendiri, masyarakat Galunggung bahkan lebih hina daripada kulit rubah (lasun). Menjadi jelas, dalam pemahaman Darmasiksa, wilayah/tanah air adalah hal yang paling fundamen dari sebuah masyarakat/ suku/bangsa. Dengan kata lain, tak mungkin ada sebuah masyarakat tanpa ada wilayah. 

Dari naskah ini diketahui juga peran Kabuyutan, bukan hanya sebagai tempat pemujaan, melainkan dijadikan sebagai salah satu cara penopang integritas terhadap Negara, sehingga tempat itu dilindungi oleh raja dan disakralkan.

  • Kesimpulan
Amanat Galunggung merupakan sekumpulan naskah yang memuat tentang ajaran yang dicetuskan oleh salah satu Raja Sunda bernama Prabuguru Darmasiksa berisi tentang ajaran-ajaran untuk dijadikan pegangan hidup keturunan sang prabuguru serta masyarakat Sunda pada umumnya. NaskahAmanat Galunggung memuat nilai dan tuntunan moral dalam kerangka sistem sosial masyarakat, di antaranya :

- Konsepsi kepemimpinan yang dinamakan dengan Tri Tangtu Di Bumi yaitu, Rama-Resi-Ratu.
- Amanat Galunggung menekankan pentingya kesadaran sejarah, penghormatan terhadap leluhur beserta nilai-nilai ajarannya. 
- Keharusan menjaga kabuyutan dan membentenginya dari pengaruh dari dunia luar (bangsa asing).

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Memaknai Naskah Kuno AMANAT GALUNGGUNG"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel