PRAMISTARA I : Genealogi Islam Nusantara Ahlussunnah Wal-Jama'ah An-Nahdliyyah

PESANTREN RAMADHAN ISLAM NUSANTARA KE-1
PRAMISTARA I

TEMA :
Genealogi Islam Nusantara Ahlussunnah Wal-Jama'ah An-Nahdliyyah

PELAKSANAAN :
Tempat : Pesantren Global Tarbiyyatul Arifin - Malang
Waktu : 1 - 4 Ramadhan 1436 H / 18 - 21 Juni 2015 M


Program Pesantren Ramadhan diikuti peserta dari berbagai daerah yang jauh seperti Bandung, Jogjakarta, Rembang, Sumenep, Jember, Lamongan, Gresik, Surabaya, Blitar, Lumajang, Mojokerto. Tidak hanya anak-anak muda Nahdliyyin, anak-anak muda Muhammadiyah dan sekolah umum serta Nasionalis pun ikut kegiatan dengan serius.

K Ng H Agus Sunyoto memaparkan sejarah dakwah Islam yang diawali tahun 674 M dengan datangnya saudagar Tazhi (Arab) di Kerajaan Kalingga di Jawa sebagaimana dicatat utusan Dinasti Tang, namun sampai kedatangan Laksamana Cheng Ho yang ke-7 pada tahun 1433 dengan mengajak Ma Huan, penduduk pribumi belum memeluk Islam. Tahun 1440-an datang di Jawa keluarga Campa ke Majapahit yang kelak dikenal sebagai Sunan Gresik dan Sunan Ampel. Sekitar 1470-an dimulailah gerakan dakwah yang dikenal sebagai Wali Songo yang terdiri dari putera-putera, menantu, keponakan, dan santri dari Sunan Ampel dan Sunan Gresik.

Masa itulah, dakwah Islam yang tidak berkembang di kalangan pribumi selama 8 abad (674 - 1440), mencatat pertumbuhan dan perkembangan yang menakjubkan. Tahun 1513 -- 40 tahun setelah dakwah Wali Songo -- Tome Pires, ahli botani portugis yang datang ke Jawa mencatat bahwa seluruh pantai utara Jawa dikuasai adipati-adipati muslim, bahkan di Demak dipimpin Pate Unus, dan Sunan Giri disebutnya sebagai "paus" Jawa. Tome Pires mencatat adik Raden Patah -- Raden Kusen Adipati Terung yang disebutnya Juru Pengalasan ing Terung -- adalah seorang panglima yang kaya raya memiliki tanah luas, sering terlibat konflik bersenjata dengan Patih Majapahit, yang kekuasaannya sudah berada di pedalaman. Dengan metode dakwah bagaimana Wali Songo berhasil menyebarkan dakwah Islam begitu kolosal.

Prof Dr H Imron Arifin yang membincang aspek keagaman umat Islam Indonesia hasil dakwah Wali Songo yang banyak digugat golongan modernis maupun Wahhabis sebagai amaliah bid'ah, khurafat dan takhayul. Menurut Professor Imron Arifin, perilaku bid'ah sudah dilakukan sejak zaman Rasulullah Saw masih hidup, sebagaimana diriwayatkan dalam kisah Rasulullah Saw mendengar suara terompah Bilal bin Rabah di Surga. Saat Rasulullah Saw bertanya kepada Bilal amaliah apa yang telah dilakukannya hingga ia menjadi ahli surga? Bilal menjawab bahwa setiap kali usai wudhu, ia melakukan sholat dua rakaat dan setiap batal ia selalu memperbaharui wudhu. "Apa yang diamalkan Bilal itu tidak ada petunjuk dari Rasulullah Saw,' ujar Professor Imron Arifin. Dengan demikian, kalangan Ahlussunnah wal-Jama'ah ala Mazhahib al-Arba' menganut pandangan bahwa tidak semua bid'ah itu dholala tetapi ada yang hasanah. Dengan memaparkan banyak contoh, Professor Imron Arifin menegaskan, bahwa di era global ini golongan yang menilai semua mbid'ah adalah dholala tidak akan konsisten lagi karena  hampir tidak ada perkara bid'ah yang tidak dilakukan oleh umat Islam. "Orang khutbah Jum'at menggunakan bahasa Indonesia itu sudah termasuk bid'ah. Sholat menggunakan speaker juga bid'ah. Memperluas Minna hingga di luar area yang ditetapkan, malah lebih bid'ah," ujar Prodfessor Imron Arifin.

Istirahat sambil menunggu buka puasa usai mengikuti sesi demi sesi pembelajaran. Yang bukan santri belajar jadi santri, tidur di lantai beralas karpet. Yang merasa santri berada di Dapur I menanak nasi untuk sekitar 30 orang.


Peserta puteri di Dapur II sibuk memasak lauk untuk peserta yang berjumlah 30 orang.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "PRAMISTARA I : Genealogi Islam Nusantara Ahlussunnah Wal-Jama'ah An-Nahdliyyah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel