Postingan Terbaru

AL-MIHRAB: Seputar Tahlilan dan Kenduri

Oleh: Ustadz Nadzirien

Tahlilan menurut bahasa merupakan kalimat mashdar dari fi'il madli "Hallala - Yuhallilu - Tahlilan", yang bermakna : membaca kalimat Laa Ilaaha Ilaallah. Tahlilan adalah amalan dzikir dan munajat kepada Allah swt, yang di dalamnya berisi pembacaan ayat-ayat al-Quran, kalimah tahlil, tahmid, takbir, tasbih dan shalawat, serta do'a-do'a lainnya, yang diperuntukan untuk orang-orang yang telah meninggal dunia. Semua itu merupakan amaliyah yang tidak bertentangan sedikit pun dengan syariat Islam bahkan dianjurkan. Dengan latar belakang inilah, kemudian amalan ini dinamakan tahlilan, karena di dalamnya banyak dibaca kalimat thayyibah (tahlil). sebagaimana penamaan sholat tasbih, karena di dalamnya banyak sekali bacaan tasbih (300 kali).

Sedangkan kenduri adalah sedekah makanan dalam "tahlilan", yang pahalanya ditujukan untuk orang yang meninggal dunia (mayit). Biasanya dilakukan selama 7 hari, hari ke 40, hari ke 100, setahun meninggalnya (haul) dan hari ke 1000.

Adapun istilah 7 hari dalam kenduri berdasarkan hadist riwayat Imam Thawus tercantum dalam kitab Al Hawi juz II hal 178 : "Seseorang yang mati akan memperoleh ujian dari Allah SWT dalam kuburnya selama 7 hari. Untuk itu, sebaiknya mereka (yang masih hidup) mengadakan jamuan makan (sedekah) untuknya selama hari-hari tersebut".

Sahabat Ubaid ibn Umair berkata : "Orang mukmin dan orang munafiq sama-sama akan mengalami ujian dalam kubur. Bagi mereka orang mukmin akan memperoleh ujian selama 7 hari, sedangkan bagi orang munafiq selama 40 hari".

Hadist tersebut termasuk dalam kategori hadist shahih menurut penilaian 3 imam (Maliki, Hanafi, dan Hambali) yang telah dijadikan hujjah mutlak dan sudah diamalkan semenjak zaman para sahabat hingga para tabi'in.

Adalah asumsi yang keliru jika dikatakan bahwa peringatan 7 hari kematian dalam kenduri semata-mata murni diambil dari budaya Hindu. Padahal, dalam agama Hindu tidak ada peringatan untuk orang mati pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, ke-1000. Dalam agama Hindu, orang mati pada tahun ke-12 setelah kematian yang disebut upacara Sraddha.

Sedangkan penentuan hari ke-7, ke-40, ke-100, setahun (khaul) , ke-1000  dan seterusnya, termasuk tradisi yang sama sekali tidak bertentangan dengan Islam, karena sesungguhnya sedekah makanan dan membaca  dzikir itu sunnah dilakukan kapan saja. Bahkan di Makkah dan Madinah tradisi kenduri 7 hari sudah ada sejak dahulu kala, sebagaima kesaksian Syaikh Muhammad Nur Bugis (beliau ini murid dari ulama-ulama besar di Makkah), di dalam kitab "Kasyful Astaar" (kitab yang khusus membahas kegiatan tahlilan dan kenduri), dengan menukil perkataan Imam As-Suyuthi: "Sungguh kabar tentang kenduri selama 7 hari telah sampai kepadaku dan aku menyaksikan sendiri bahwa tradisi ini telah berlaku di Makkah dan Madinah berkelanjutan hingga aku kembali ke Indonesia (tahun 1947 M- 1958 M). Faktanya amalan itu tidak pernah ditinggalkan sejak zaman sahabat Nabi hingga sekarang, dan mereka menerimanya dari para salafush Shaleh sampai masa awal Islam. Ini dinukil dari perkataan Imam al-Hafidz A-Suyuthi".

Imam al-Hafidz As-Suyuthi sendiri berkata : "Disyaratkan memberi makan (shadaqah) karena ada kemungkinan orang yang mati memiliki dosa yang memerlukan sebuah penghapusan dengan shadaqah dan lainnya, maka jadikanlah shadaqah itu sebagai bantuan untuk meringankan dosa agar dimudahkan menjawab pertanyaan, kebengisan dan gertakan Munkar Nakir di dalam kubur".

TENTANG PERJAMUAN MAKANAN

Memberikan penghormatan kepada para tamu yang berupa jamuan, itu juga merupakan kebajikan yang dianjurkan dalam Islam.
Dari Abi Hurairah, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda : "Barangsiapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, maka janganlah menyakiti para tetangganya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, hendaknya menghormati tamunya ... " (HR Muslim).

Seorang tamu yang keperluannya hanya sekedar bersilaturrahmu atau mengobrol saja harus diterima dan dijamu dengan baik, apalagi tamu yang datang untuk mendo'akan keluarga kita yang sudah meninggal, sudah sepantasnya lebih dihormati dan diperhatikan, hanya saja kemampuan finansial tetap harus menjadi prioritas utama, sehingga tidak boleh memaksakan diri untuk memberikan jamuan yang berlebihan dalam acara tahlilan, apalagi sampai berhutang ke sana ke mari, dalam kondisi seperti ini, sebaiknya perjamuan itu diadakan secara sederhana atau kala kadarnya.

SAMPAINYA DO'A DAN PAHALA AMALAN KEPADA ORANG YANG MENINGGAL DUNIA.

Di antara dalil-dalil yang dibuat pijakan tentang sampainya do'a dan pahala amalan yang dihadiahkan kepada orang yang sudah meninggal dunia (mayit) adalah sebagai berikut :

1. Firman Allah dalam surat Muhammad ayat 19 : "..dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu'min, laki-laki dan perempuan ..". Ayat ini menunjukan bahwa do'a atau permohonan oleh orang yang hidup bermanfaat bagi orang yang telah meninggal dunia serta mengandung perintah untuk memohonkan ampunan.

2. Hadist Nabi Muhammad Saw :
a. Dalam kitab Jami'us Shaghir juz II, hal. 178, tercantum sebuah hadist shohih : Dari Mu'aqqol ibn Yassar ra, Rasulullah Saw bersabda : "Barang siapa membaca surat Yasin karena mengharap ridlo Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Untuk itu bacakanlah surat Yasin untuk orang yang telah meninggal dunia di antara kalian". (HR. Al-Baihaqi).

b. Dari Abdullah bin Abbas ra bahwa Sa'ad bin Ubadah ibunya meninggal dunia ketika ia tidak ada di tempat, lalu ia datang kepada Nabi Muhammad Saw untuk bertanya : "Wahai Rasulullah Saw sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia sedangkan saya tidak di tempat, apakah jika saya bersedekah untuknya bermanfaat baginya?" Beliau menjawab "Iya". Sa'ad berkata, "Saksikanlah bahwa kebunku yang banyak buahnya itu aku sedekahkan untuknya" (HR. Bukhori).

c. Dari Auf bin Malikra, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Saw, setelah shalat jenazah berdo'a : "Ya Allah ampunilah dosanya, sayangilah dia, maafkanlah dia, tegarkanlah dia, muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah kuburannya, mandikanlah ia dengan air es dan air embun, bersihkanlah dari segala kesalahan sebagaimana kain putih yang dibersihkan dari kotoran, gantikanlah untuknya tempat tinggal yang lebih baik dari tempat tinggalnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, pasangan yang lebih baik dari pasangannya dan peliharalah dia dari siksa kubur dan siksa neraka" (HR. Muslim).

d. Imam an-Nawawi (ulama besar madzhab As-Syafi'i) dalam al-Adzkar menyebutkan : "para ulama' telah ber ijma' (bersepakat) bahwa do'a untuk orang yang telah  meninggal dunia itu bermanfaat dan pahalanya sampai kepada mereka". Mereka mengambil dasar dari firman Allah dalam surat Al-Hasyr ayat 10 : "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), berdo'a : Ya Tuhan kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman yang telah beriman lebih dahulu daripada kami."    
Sementara itu dalam hadits-hadits yang masyhur Nabi Muhammad Saw berdo'a : "Ya Allah ampunan kepada ahli perkuburan baqi". Beliau juga berdo'a: "Ya Allah berikanlah ampunan kepada yang masih hidup dan yang sudah meninggal di antara kami".
Semoga bermanfaat, aamiin !
Wallahu A'lam

Sastra Piwulang : Konsep Etis Kepemimpinan Birokrasi dalam Usaha Bina Negara

Oleh: K.Ng.H. Agus Sunyoto

Di tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang penuh letimpangan akibat  meluapnya konsep-konsep yang mengalir dari fenomena liberalisme yang menandai proses globalisasi, terjadi kecarut-marutan  dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Setiap kali orang membincang masalah pemerintahan – dari tingkat desa sampai ibukota – yang muncul dalam stigma pemikiran publik adalah keberadaan uang sebagai panglima, yang disebut money politic, yang seolah-olah telah menjadi bagian inheren dari demokrasi. Akibat fenomena yang aneh ini, seorang di antara anak bangsa Indonesia hanya mungkin bisa naik menjadi pemimpin di tingkat desa, kabupaten, propinsi, dan bahkan nasional jika didukung oleh kekuatan modal-kapital.

Tidak bisa diingkari, bahwa akibat langsung dari fenomena ‘uang sebagai panglima’ adalah terjadinya  kejungkir-balikan nilai-nilai kepemimpinan yang selama ratusan tahun telah menjadi gagasan, konsep, pandangan, ide-ide, dan nilai-nilai luhur yang dianut bangsa Indonesia. Dampak buruk akibat kemenangan berbasis uang, terjadi fenomena menyedihkan di mana bermunculan  pemimpin-pemimpin bodoh, curang, tidak jujur, licik, serakah, tamak, bahkan kurang waras. Dan masyarakat pun pada gilirannya tidak lagi memiliki parameter untuk menetapkan kriteria pemimpin yang pantas memimpin mereka, karena citra pemimpin dewasa ini sudah identik dengan uang. Siapa yang memiliki modal-kapital uang – meski tidak waras dan sangat tolol – akan dipilih menjadi pemimpin oleh rakyat.

Lepas dari pertimbangan penting dan tidak, mengetahui gagasan-gagasan, pandangan, konsep, ide-ide, dan nilai-nilai kepemimpinan dalam Bina Negara yang pernah diterapkan di Indonesia pada masa silam lazimnya dikemas dalam bentuk sastera, yang disebut sastra piwulang seperti  Nitisastra, Astadasa Kottamaning Prabhu, Arjuna Wiwaha, Arjuna Wijaya, Asta Brata bagian Ramayana, Bhagawadgita bagian Mahabharata, yang secara spesifik diikuti sastra piwulang Nitisruti,  Niti Praja, Panitisastra, dan Darma Sunya.

Sastra sendiri dipungut dari kata Sansekerta ‘shastra’, memiliki makna teks-teks yang mengandung ajaran suci, yang dijadikan pedoman bagi kehidupan manusia. Karena itu kitab suci, naskah-naskah keagamaan,  hukum, pemerintahan, dan pendidikan digolongkan sebagai sastra seperti Veda Smrti, Tripitaka, Purana, Dharmashastra, Suluk, Serat di mana naskah-naskah tersebut selalu mengandung pelajaran dan pendidikan etika. Namun akibat pengaruh pemikiran Eropa, sastra pada gilirannya hanya dimaknai tulisan indah (su-sastra) yang bersifat artistik-imajinatif yang tidak memiliki kaitan dengan realitas kehidupan manusia.

Pada hakikatnya  nilai-nilai moral yang mencakup  nilai baik-buruk, benar-salah, halal-haram, haqq-bathil, pantas-tidak pantas dan sejenisnya yang terdapat di dalam sastra kuno Nusantara bersumber dari ajaran agama, di mana esensi ajaran agama adalah  mengatur kehidupan manusia dari akal-budi dan pekerti yang rendah menjadi lebih baik dan sempurna. Secara umum nilai-nilai moral mengacu pada ajaran baik-buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, ungkapan, pemikiran, dan kewajiban yang disebut akhlak, budi pekerti, susila, tatakrama. Itu sebabnya, masalah pendidikan, hukum, budaya, pemerintahan yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari orang-orang Nusantara  tidak pernah  terputus  dari moral-etika yang dianut dan dijadikan pijakan nilai-nilai, ide-ide, gagasan-gagasan, konsep-konsep, pandangan-pandangan yang dijaga sebagai bagian kekayaan budaya nasional.

Jauh sebelum Negara Indonesia dibentuk pada 18 Agustus 1945, Bangsa Indonesia sejak jaman kuno telah mengenal Bina Negara dengan bukti keberadaan Negara-negara lokal maupun Nasional berbentuk Kerajaan,  Ke-dhatu-an, Kesultanan, Kesunanan  seperti Kutei, Tarumanagara, Kalingga, Sriwijaya, Sunda, Mataram, Panjalu, Singasari, Majapahit, Demak, Seran, Taliwang, Palembang, Gowa, Bone, Gelgel,  Pajang, Bima, Mataram II. Sebagaimana lazimnya keberadaan suatu Negara, kekuasaan-kekuasaan lokal maupun nasional yang belakangan disebut Negara tradisional itu, sudah memiliki sistem administrasi pemerintahan meski masih sangat  sederhana. Keberadaan prasasti-prasasti seperti Prasasti Harinjing, Wurudu Kidul, Sangguran, Pereng, Dinoyo, Klagen, Sumengka, Klurak, Bungur, Mula-Malurung, Penanggungan, Pethak yang berasal dari abad VIII hingga abad XIII dan naskah-naskah kuno seperti Manawa Dharmasastra, Nawa natya, Salokantara, Niti Sastra telah menyebutkan aneka jabatan birokrasi  dalam pemerintahan yang menunjuk bahwa dewasa itu kerajaan-kerajaan lokal maupun  nasional di Nusantara sudah mengenal sistem birokrasi dalam pemerintahannya. Sejumlah jabatan birokrasi kuno yang dapat diidentifikasi dari prasasti-prasasti dan naskah-naskah sastra kuno  adalah:

Patih (Perdana Menteri, Kepala Pemerintahan), Parttaya (Menteri Sekretaris Kerajaan), Parwuwus/ Parujar (Juru Bicara Kerajaan),  Juru Kanayakan (Kepala urusan pajak), Pancatandha (lima jabatan utama pembantu raja: Kanuruhan, Pejabat yang melaksanakan titah raja; Demung, Kepala rumah tangga kerajaan;  Rangga, Perwira tinggi pengawal raja;  Tumenggung, Panglima kerajaan), Makudur dan Wadihati (Pejabat kerajaan yang memimpin upacara keagamaan dalam penetapan tanah sima/ perdikan); Citralekha (Juru tulis kerajaan), Hulu Wras (Pejabat yang mengurusi hasil panen), Kulapati (Pejabat  yang mengawasi kasta), Wahuta (Pejabat pelaksana program), Pangurang (Pejabat pemungut pajak), Samgat Momahumah (Sekretaris pribadi raja), Wiku Aji  (Pejabat keagamaan yang mengawasi bangunan keagamaan milik raja dan keluarga raja), Dharmadhyaksa (Hakim tinggi agama),  Manghuri (Pujangga keraton), Nayaka (pejabat lokal yang diberi wewenang memungut pajak), Purohita (pendeta kerajaan), Wariga (pejabat yang menentukan hitungan hari berdasar astronomi), Adhiyaksa (Hakim). Upapatti (Jaksa), Panji (pengacara), Citralekha (panitera), Singhanagara (algojo), Juru Sukat (pejabat yang mengawasi standar timbangan/ dinas metrologi),  Juru Judi  (pejabat pengawas perjudian), Juru Titi (pejabat pengawas kemurnian bahan), Juru Gusali (Pejabat yang mengurusi pande besi),  Juru Iwak (pejabat yang mengawasi penangkapan ikan), Juru Jalir  (Pejabat pengawas pelacuran), Juru ning Mangrakat (Pejabat yang mengurusi  tari topeng), Juru Bapu  (Kepala para Jagal), Juru Basana (pejabat yang mengawasi para penjahit dan orang yang menyewakan pakaian),  Juru Bhojakarya (Kepala juru masak kerajaan), Juru Buyut (Kepala para buyut/ wedana),  Juru Dyah (Kepala Pengiring Raja), Tuha Alas  (Mantri hutan), Tuha Buru (Pejabat yang mengurusi para pemburu),  Tuha Kalang (Pejabat yang mengawasi penebangan kayu),  Tuha rawa (Pejabat yang mengawasi pencari ikan), Tuha Wanua  (Kepala banuwa/desa), Tuha Hunjeman (Kepala orang asing berkasta rendah), Makalangkang (Petugas  yang mengurusi lumbung padi), Mula (Pejabat yang mengurusi keamanan desa), Rama (Kepala desa), Rama Marata (pensiunan kepala desa yang dituakan), Tuha Wereh (Pejabat yang mengurusi pemuda dan pemudi), Winkas  (Pejabat desa yang bertugas menyampaikan berita pada warga), Tunggu Durung  (Petugas penunggu lumbung padi), Huler – Hulu Air – Ulu-ulu Banyu (Pengawas pengairan),  Pangkur, Tawan, Tirib (Pejabat pusat di daerah untuk memungut pajak),  Wahuta (Penjaga ketertiban desa), Dapur (Dewan pimpinan Desa yang mewakili komunitas thani), Juru Wanyaga  (Kepala perwakilan pedagang), Tuhapkan  (mantri pasar), Juru Tambang (Pengawas penambangan), Hulu Wwatan (Pejabat pengawas jembatan-jembatan), Juru Masamwaywahara (Pejabat yang mengurusi perniagaan), Marggabhaya (Pejabat yang mengurusi kecelakaan/ musibah di jalan), Juru Padam Apuy (Pejabat pemadam kebakaran), Hulu Turus (Pejabat yang mengurusi perbatasan wilayah).

Keberadaan jabatan-jabatan dalam birokrasi pemerintahan tradisional, bukanlah jabatan yang berdiri sendiri dengan tugas-tugas yang harus dijalankannya sesuai kemampuan pemegang jabatan tersebut, melainkan terdapat kaidah-kaidah, norma-norma, nilai-nilai, dan aturan etis-estetis yang menjadi pedoman bagi penerapan birokrasi pemerintahan yang baik dan sempurna. Itu berarti, setiap pejabat pemerintah dalam melaksanakan tugas di berbagai bidang dan jenis karya yang beraneka ragam, selalu berada pada kerangka pemikiran, kebijakan dan pelaksanaan kewajiban moral-etisnya sebagai abdi Tuhan, Raja, Negara  dan masyarakat. Dalam konteks inilah sastra piwulang bersifat dedaktik seperti  Nitisruti, Asta Brata,  Niti Praja, Panitisastra, Sasanasunu, dan Darma Sunya  dijadikan pegangan oleh para abdi Negara sebagai keniscayaan bagi makna hidup sebagai abdi Negara, melengkapi sastra piwulang yang lebih kuno seperti Nitisastra, Astadasa Kottamaning Prabhu, Arjuna Wiwaha, Arjuna Wijaya, Ramayana dengan Astabratanya, dan  Mahabharata dengan Bhagawadgitanya.

Aneka macam jabatan dalam birokrasi pemerintahan lokal maupun nasional yang ditegakkan di masa lalu, selalu dimaknai sebagai suatu identitas yang tidak lepas dari unsur kemanusiaan dari seorang yang mendudukinya. Itu artinya, semua jabatan birokrasi disyaratkan untuk diisi oleh orang-orang tertentu yang tidak saja memiliki kapasitas, kualitas, kredibelitas, dan kapabelitas,  melainkan memiliki pula integritas dan profresionalitas dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai abdi Negara.

Di antara gagasan kepemimpinan yang disyaratkan di dalam jabatan birokrasi pemerintahan yang pernah diterapkan di Indonesia masa silam adalah yang dikenal dengan sebutan Astadasa Kottamaning Prabhu, yang sebagian di antaranya mencakup kriteria yang disebut: (1)  Wijaya,   seorang pemimpin wajib memiliki jiwa tenang, sabar dan bijaksana serta tidak cepat panik dalam menghadapi berbagai macam persoalan; (2) Mantriwira, seorang pemimpin wajib berani membela dan menengakkan kebenaran dan keadilan; (3) Natangguan, seorang pemimpin wajib bersifat amanah agar mendapat kepercayaan dari masyarakat dan berusaha menjaga kepercayaan tersebut, sebagai tanggungjawab dan kehormatan dirinya; (4) . Satya Bakti Prabu, di mana seorang pemimpin wajib memiliki kesetiaan kepada kepentingan yang lebih tiggi dan semua tindakannya penuh ditandai kesetiaan; (5) Wagmiwak, seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan mengutarakan pendapatnya, pandai berbicara dan bertutur kata dengan tertib dan sopan; (6) Wicaksaneng Naya, seorang pemimpin wajib bijaksana dan  pandai berdiplomasi serta pandai mengatur strategi dan siasat dalam menjalankan kewajibannya; (7) Sarjawa Upasama, seorang pemimpin wajib rendah hati, pantang bersikap sombong, congkak, sok berkuasa,   mentang-mentang menjadi pemimpin; (8) Dirotsaha, seorang pemimpin wajib rajin dan tekun bekerja, pemimpin harus memusatkan rasa, cipta, karsa dan karyanya untuk mengabdi kepada kepentingan umum; (9) Tan Satresna, seorang pemimpin tidak boleh memihak dan pilih kasih terhadap salah satu golongan apalagi memihak keluarganya, sebaliknya harus mampu berdiri di atas segala golongan; (10) Masihi Samasta Buwana, seorang pemimpin wajib mencintai alam semesta dengan menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar sebagai karunia dari Tuhan; (11) Sih Samasta Buwana, seorang pemimpin harus dicintai oleh segenap lapisan masyarakat dan sebaliknya pemimpin harus mencintai masyarakatnya; (12) Negara Gineng Pratijna, seorang pemimpin senantiasa mengutamakan kepentingan negara dari pada kepentingan pribadi atau golongan apalagi kepentingan keluarga; (13) Dibyacita, seorang pemimpin wajib lapang dada dan bersedia menerima pendapat orang lain bahkan dari bawahannya sekalipun; (14) Sumantri, seorang pemimpin harus tegas, jujur, bersih dan berwibawa; (15) Nayaken Musuh, seorang pemimpin harus dapat menguasai musuh-musuhnya, baik yang datang dari dalam maupun dari luar, termasuk ‘musuh’ yang ada di dalam dirinya sendiri yaitu nafsu/ sadripu; (16) Ambek Parama Arta,  seorang pemimpin harus pandai menentukan prioritas  hal-hal yang lebih penting bagi kesejahteraan dan kepentingan umum, haram mementingkan diri sendiri; (17) Waspada Purwa Arta, seorang pemimpin harus selalu waspada dan senantiasa mawas diri  untuk melakukan perbaikan dari kelemahan dan kekurangannya; (18) Prasaja, seorang pemimpin wajib berpola hidup sederhana (Aparigraha), tidak berfoya-foya, bermegah-megah,  dan  hidup diliputi kemewahan.

Delapan belas kriteria untuk mengukur nilai kelayakan seorang pemimpin sesuai Astadasa Kottamaning Prabhu – terutama pemimpin birokrasi pemerintahan – tidak seutuhnya dapat dicapai secara sempurna  oleh seorang pejabat kerajaan. Namun sejumlah kriteria dalam Astadasa Kottamaning Prabhu seperti Natangguan (amanah, terpercaya dan dipercaya), Dirotsaha (tekun, rajin, mengabdi kepentingan umum),  Nagara Gineng Pratijna (mementingkan kepentingan Negara), Sih Samasta Buwana (mencintai dan dicintai masyarakat), Sumantri (tegas, jujur, bersih, wibawa), dan Prasaja (hidup sederhana) sudahlah cukup memenuhi kriteria seorang birokrat abdi Negara.

Menurut Serat Niti Praja Pupuh  66-69  keniscayaan bagi seorang pejabat tingkat desa dalam  menjalankan tugas utama hendaknya dilandasi  kewajiban etis mengatur keamanan, ketenangan, ketentraman, dan kemakmuran desanya termasuk di dalamnya etika melayani masyarakat yang digambarkan sebagai berikut :
66. kaya ta sira amatinggi/ lumakyeng desa aseba karang/ den kareksa drigamane/ galeng watesing dhusun/ langlangana rahina wengi/ dursila den kareksa/ anudaa laku/ anggempala sekaraman/ kang atunggu rumekseng watesireki/  lalaren saben dina//.
66. Seorang petinggi (kepala desa) haruslah  rajin berkeliling desa, mengawasi keamanan setiap pekarangan warga dengan selalu waspada pada bahaya yang mengintai. Mengawasi pematang sebagai batas desa siang dan malam agar penjahat  tidak masuk desa. Membuat jalan pintas untuk mencegah kerusuhan yang dilakukan penjahat.  Petugas yang mengawasi perbatasan desa hendaklah dipelihara dengan baik kehidupan sehari-harinya
67. anjenengana langgar den aglis/ arepena kerajan ing toya/ ingkang awening bejine/ angungkurno gunung/ myang pegagan tegal kang asri/ munggeng ayuning desa/ peringena rawa susukuning wukir/ yeku sira sedyaa//.
67. Segeralah membangun langgar (mushola). Hadapkan desa ke arah mata air yang kolamnya jernih dan membelakangi gunung. Sawah dan tegal yang subur letakkan di depan desa. Danau di kaki bukit letakkan di sisi desa. Hendaknya ini diusahakan mewujudkannya
68. Legawaa ing boja myang bukti/ ing rewangira wonge dedesan/ turutana sakarsane/ ing kasenenganipun/ karang pecal lebak lan wukir/ tunggalana kelawan sela watesipun/ myang wana ing parambutan/ sampun ing reh denira marinci/ tambangen lalakon//.
68. Bersikap rama dalam melayani tamu. Kepada warga desa pendukungmu hendaknya dituruti aspirasi dan apa yang menjadi kehendak dan kesukaannya. Tetapi pekarangan, sawah, lereng, jurang, dan bukit berilah tanda batu sebagai batas sampai ke hutan yang dibatasi semak-belukar.
69. Buktining kaum  dipun kopeksi/ kang rumeksa ing waktu lilima. Den tulusa karangane/ pancinipun den gemuh/ lan sraheno jakatireki/ muwah lan pitrahira/ serahna ing kaum/ myang kadi tanem tuwuhnya/ sedyakna ing ratu myang pandhiteki/ den anggunggung wong tapa//.
69. Sandang pangan para ‘ulama hendaknya dicukupi, sebab mereka menjaga terlaksananya ibadah lima waktu. Hasil pekarangan mereka hendaknya  dibuat selalu melimpah. Jatah untuk mereka hendaknya diperbesar. Zakat beserta fitrahnya hendaknya diserahkan kepada kaum ‘ulama. Tanaman dan ternak hendaknya diserahkan kepada raja dan pendeta. Hormat hendaknya diberikan kepada kaum pertapa.

Sangat jelas bahwa piwulang dalam Serat Niti Praja bertujuan utama mengangkat kesejahteraan masyarakat sebagai tugas utama seorang pejabat dalam menjalankan kewajiban etisnya. Itu sebabnya, Serat Niti Praja mengecam dan mencerca pejabat yang mencari keuntungan untuk diri sendiri, mementingkan golongannya sendiri, mengutamakan orang dari kalangan atas, dan tidak memikirkan orang kecil yang sengsara sebagaimana tertuang dalam pupuh 71 & 74, sebagai berikut:
71. lan malihe wong karan rahi/ anggung gumunggung guru aleman/ angulati satimbange/ wales winales ing yun/ urmat ingurmatan sireki/ iku wateking setan/ brahala den temu/ adoh ing pekir kasihan/ kang sengite andulu wong kawlas asih/ raketing wong sudagar//.
71. Dan lagi tentang orang yang disebut rahi, yang selalu sombong, menjilat mencari pujian, selalu mencari orang yang sederajat, lalu saling tolong-menolong dalam mencapai nafsu dan kehendak, saling menghormat di antara mereka sendiri. Itulah watak setan. Hanya berhala yang mereka dapatkan. Jauh dari orang fakir yang memelas. Benci melihat orang miskin yang patut dikasihani. Hanya bersedia bergaul  dengan para saudagar.
74. Alamun sira  reke wus umanggih/ sawirasaning janma utama/  tumindaka aja mengeng/ lampahnya den andarung/ kang sinandya dipunlastari/ kadi mina angambang/ jroning ranu/ kasrep kaeleng babara/ mara mundur tan wikan margane mulih/ yen kundura ing lampah//.
74. Apabila engkau telah memahami makna manusia utama, bertindaklah tanpa ragu, hendaknya sikapmu bersemangat, apa yang dikehendaki nafsumu  hendaknya terus dipikir. Ibarat ikan mengambang di dalam air telaga, terdesak dan masuk ke dalam pukat, begitulah kembalinya manusia yang tidak tahu jalan pulang, apabila kembali akan  terlantar di tengah perjalanan.

Sebagai sastra piwulang, Serat Niti Praja sering kedapatan menggunakan kosa kata yang sangat sarkastik dalam menggambarkan pejabat-pejabat yang tidak memiliki simpati dan empati kepada masyarakat. Penggunaan kosa kata “rahi’ dalam kalimat ‘lan malihe wong karan rahi’ adalah cercaan sekaligus hinaan yang sangat tajam karena ‘rahi’ dalam bahasa Jawa Kuno berkaitan dengan kata sindiran ‘bek eng endhut watreng rahi’ (wajah penuh berlepot lumpur) yang bermakna ‘orang tidak punya malu’ atau lebih kasar disebut ‘rai gedhek’. Dan untuk pejabat yang diberi sebutan ‘rahi’ tidak saja dianggap sebagai orang hina tetapi juga orang sesat jalan, yang jika kembali ke alam baka akan tersesat di tengah jalan. Itu berarti, pejabat yang tidak menjalankan kewajiban etisnya sebagai Abdi Negara yang harus memiliki concern terhadap masyarakat  tidak hanya menerima hukuman di dunia melainkan dihukum juga di akhirat menjadi golongan orang yang sesat jalan, arwahnya bergentayangan tak tentu arah karena tidak diterima oleh Tuhan.

Secara umum sastra piwulang memiliki kesamaan pandangan dalam usaha mengajarkan sikap hidup yang menuntut kedisiplinan tinggi untuk mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari seorang Abdi Negara menjalankan tugas dan kewajiban etisnya menjaga ketentraman Negara (anjaga tentreming praja) dengan memberikan pelayanan, perlindungan, pertolongan, dan bantuan kepada masyarakat sesuai aspirasinya. Perbedaan yang terjadi pada sejumlah sastra piwulang umumnya terletak pada penggunaan bahasa yang lebih halus pada yang satu dan penggunaan bahasa yang lebih lugas dan kadang lebih sarkastis. Yang pasti, semua penyusun karya sastra piwulang memiliki semacam pandangan yang sama di mana pada setiap jaman masyarakat membutuhkan pegangan hidup,  termasuk para pejabat Abdi Negara. Demikianlah, dalam setiap jaman dengan berbagai sistem kenegaraan dan pemerintahan yang dijalankan di Negara-negara lokal maupun nasional di Nusantara selalu tidak lepas dari sastra piwulang yang dijadikan pegangan wajib bagi ratu, raja, sultan, susuhunan maupun aparat birokrasinya seperti patih, senapati, pancatandha, nayaka, adhyaksa, upapatti, citralekha,  parttaya, parujar, wadana, buyut (camat) hingga rama (kepala desa).

Lepas dari pemaknaan sastra modern yang sudah bergerak memasuki ranah sastra modern dan sastra post-modern yang sangat terpengaruh Barat sehingga melepaskan diri dari nilai-nilai moral-etis  yang melandasi sastra piwulang warisan para pendahulu, penting diajukan tawaran untuk menggali dan menggunakan kembali bentuk-bentuk sastra lama yang bersifat dedaktik, yaitu sastra piwulang. Maksudnya, sudah saatnya sastra tidak sekedar dimaknai sebagai karya tulis imajinatif yang indah dan bebas nilai sebagaimana pemaknaan Barat , melainkan sastera dapat  diorientasikan kepada nilai-nilai moral dalam kerangka nation-building, sehingga terlahir karya-karya sastra piwulang dedaktik yang artistik dan etis seperti Serat Centhini, Serat Wulangreh, Serat Tripama, Serat Sastra Gending, Suluk Wujil, Suluk Sujinah, terutama sastra piwulang yang berkaitan dengan usaha Bina Negara seperti Serat Niti Praja, Serat Niti Sastra, Serat  Panitisastra, Serat Sewaka, Serat Sasanasunu, Serat Darma Sunya.

Penting atau tidak penting, mengetahui dan memahami gagasan, pandangan, ide-ide, konsep-konsep, dan nilai-nilai kepemimpinan yang pernah diletakkan oleh leluhur bangsa dalam bina Negara adalah sebuah keniscayaan. Sebab dengan memahami konsep dan gagasan serta nilai-nilai  kepemimpinan yang diwariskan leluhur, anak-anak bangsa  akan mengetahui bagaimana kebesaran dan keagungan bangsanya di masa silam yang tidak saja berkuasa dan berdaulat di negeri sendiri melainkan berhasil pula memakmurkan dan memberikan keadilan bagi seluruh rakyat negerinya.

Amalan-amalan Yang Bisa Membuka Pintu Rejeki

Oleh: Ustadz M. Ridwan Qayyum Sa’id

Allah Swt berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah” (QS. Al-Baqarah:172).
“Dan tidak ada satu binatang melatapun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rejekinya”. (QS. Hud:11)
Rasulullah Saw berpesan :
"Malaikat Jibril membisikkan di dalam hatiku, bahwa suatu jiwa tidak akan mati hingga telah sempurna rejekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan carilah (rejeki) dengan cara yang baik. Dan hendaklah tertundanya (lambatnya datang) rejeki tidak mendorong kalian untuk mencarinya dengan kemaksiatan kepada Allah, karena sesungguhnya keridlaan di sisi Allah tidak akan bisa diraih kecuali dengan ketaatan kepada-Nya” (HR. Abu Nuaim Baihaqi dan Bazar).
“Sesungguhnya rejeki akan mengejar seorang hamba seperti ajal mengejarnya” (HR. Ibnu Hibban).
”Sesungguhnya Allah Swt suka melihat hamba-Nya bersusah payah dalam memberi rejeki yang halal” (HR. Dailami). Umar bin Khattab ra berkata : “Tidak ada tempat yang aku cintai ketika ajal datang melainkan saat aku bekerja untuk keluargaku melakukan jual beli”. Rasulullah Saw bersabda “Orang mukmin yang kuat (dalam iman dan tekadnya) lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah. Dan masing-masing (dari keduanya) memiliki kebaikan, bersemangatlah (melakukan) hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mintalah (selalu) pertolongan kepada Allah, serta (bersikap) lemah”  (HR. Muslim).
“Sebaik-baik sesuatu yang dimakan oleh orang mukmin adalah hasil usahanya” (HR. Ibnu Majah dan Imam Ahmad).
Di antara Amalan Pembuka Rejeki 


1. Selalu menyempatkan diri untuk beribadah. 
Allah Swt, berfirman dalam Hadist Qudsi : “Wahai anak Adam, sempatkanlah untuk menyembah-Ku, maka Aku akan membuat hatimu kaya dan menutup kefakiranmu. Jika kau tidak melakukannya maka Aku akan penuhi tanganmu dengan kesibukan dan aku tidak akan menutup kefakiranmu (HR.Ahmad, Tirmidzi, dan Hakim).

2. Berbakti dan mendoakan orangtua.
Rasulullah Saw bersabda : ”Barangsiapa ingin diperpanjangkan umurnya dan diluaskan rejekinya, hendaknya berbakti kepada ibu bapaknya dan menyambung tali kekeluargaan”. (HR.Ahmad). Rasulullah Saw juga bersabda : “Barangsiapa berbakti kepada ibu bapaknya, maka baginya kebahagiaasn dan Allah akan memperpanjangkan umurnya” (HR. Abu Ya’la, Thabrani, dan Hakim). Dalam hadist lain, Rasulullah Saw bersabda : “Apabila hamba itu berdoa meninggalkan kepada orang tuanya, niscaya terputuslah rezeki dari-Nya”. (HR.Al-Hakim dan Ad-Dailami).

3. Membiasakan Shalat Dhuha. 
Allah berfirman dalam Hadist Qudsi : ”Wahai anak Adam, jangan sekali-kali kau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang (shalat dhuha), niscaya akan Aku cukupkan keperluanmu pada petang harinya”. (HR.Hakim dan Tabrani).

4. Bersedekah dan membantu orang lain.
Rasulullah Saw berpesan kepada Zubair bin Awwam : “Hai Zubair, ketahuilah bahwa kunci rezeki setiap hamba itu terhalang di  Arsy, sekadar nafkahnya. Barang siapa banyak memberi kepada orang lain, niscaya Allah akan memperbanyak pemberiannya. Dan barang siapa menyedikitkan, niscaya Allah menyidikitkan bagiannya”, (HR.Daruquthni ). Rasulullah Saw juga bersabda : ”Barangsiapa menunaikan hajat saudaranya, maka Allah akan menunaikan hajatnya”. (HR.Muslim).

5. Menolong orang yang lemah
Rasulullah Saw bersabda : “Tidakkah kamu diberikan pertolongan dan diberi rizki, melainkan karena orang lemah di kalangan kamu” (HR.Bukhari).

6. Menjalin silaturahmi
Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa ingin dilapangkan rizkinya dan dilambatkan ajalnya, maka hendaknya ia menghubungi sanak saudaranya”. (HR.Bukhari). Dalam hadist lain, Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa ingin dilapangkan rizkinya dan dihindarkan dari mati yang tidak baik, hendaknya ia gemar menyambung tali silaturahim. (HR.Bukhari).

7. Memperbanyak istighfar
Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa melanggengkan istighfar niscaya Allah akan mengeluarkan dia dari segala kesusahan dan memberikan rezeki dari arah yang tidak terduga-duga”. (HR.Ahmad, Abu Dawud,  dan Ibnu Majjah)

8. Membaca surat al-Waqiah setiap malam
Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa yang membaca surat al-Waqiah setiap malam, maka tidak akan ditimpa kesempitan hidup”. (HR.Baihaqi).

9. Membaca surat Al-Ikhlas 
Rasulullah Saw bersabda : “Barang siapa membaca surat Al-ikhlas ketika masuk rumah maka berkah bacaannya menghilangkan kefakiran dari penghuni rumah dan tetangganya”. (HR.Thabrani).

10. Memperbanyak “Hauqalah”
Rasulullah saw bersabda :“Barangsiapa yang lambat rezekinya hendaklah banyak mengucapkan “Laa haula Wala Quwwata illa Billah” (HR.Thabrani)

11. Melanggengkan wudhu (setiap berhadast kecil, langsung berwudhu)
“Di antara faedah melanggengkan wudhu adalah : dilapangkan rezekinya, dijaga malaikat dari perbuatan maksiat, terhindar dari maksiat dan mara bahaya “. (I’anah-ath-Thalibin juz 1 hal;66). Seorang Arab badui menemui Rasulullah Saw dan meminta petunjuk mengenai beberapa hal, termasuk minta dimurahkan rezekinya. Rasulullah Saw bersabda : “Senantiasalah kau dalam keadaan suci (dari hadast), niscaya Allah memurahkan rezekimu”.

12. Meninggalkan perbuatan dosa 
Rasulullah Saw bersabda :“…dan seorang lelaki diharamkan baginya rezeki karena dosa yang diperbuatnya”. (HR.Tirmidzi).

13. Memperbanyak membaca shalawat
Rasulullah Saw bersabda : “ barangsiapa membaca shalawat kepadaku satu kali maka Allah akan memberikan rahmad kepadanya sepuluh kali”. (HR.Muslim)

14. Memperbanyak kebajikan  
Ibnu Abbas r.a. berkata “Sesungguhnya kebajikan itu memberi cahaya kepada hati, kemurahan rezeki, kekuatan jasad, dan disayangi oleh makhluk yang lain. Laksana kejahatan pun bisa menggelapkan rupa, menggelapkan hati, melemahkan tubuh, menyempitkan rezeki, dan mendapat kutukan para makhluk”. 

15. Bersyukur kepada Allah
Allah Swt berfirman : “..dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (QS.Ibrahim:7) 

16. Ikhtiyar kemudian bertawakkal
Allah Swt berfirman :”dan Allah memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu (At-thalaq:3). Rasulullah Saw bersabda : “Seandainya kamu bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal kamu akan diberi rezeki seperti burung diberi rezeki, yang pada waktu pagi hari lapar namun petang hari ia telah kenyang”. (HR.Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majjah).

Memaknai Naskah Kuno AMANAT GALUNGGUNG

Oleh: Hasanuddin & Ramlan Maulana

Menggali kembali kearifan lokal berupa tradisi dan pengetahuan masa lalu dari peradaban Nusantara seolah membawa generasi masa kini bangsa ini pada “lorong kegelapan”. Gelap, karena literarur dan sumber sejarah yang memperkenalkan hal ihwal peradaban masa silam tersebut amat terbatas dan atau pula hanya beredar di kalangan terbatas. Pendidikan modern sebagai “warisan resmi”dari sejarah panjang kolonialisme telah menutup tabir kekayaan tradisi yang terkandung di bumi Nusantara. Demikian pula kebijakan Negara yang lebih dari tiga dasawarsa “anti tradisi” telah memutus mata rantai kesadaran (kearifan nilai) sejarah dari pangkuannya. Sehingga tak ayal generasi masa kini menjadi asing dan buta akan (sejarah) dan nilai-nilai tradisinya.

Masa lalu dianggap sebagai kisah kuno dan beban yang tidak memiliki relevansi dengan dunia masa kini. Berbicara kearifan lokal menjadi asing dari medan sejarahnya sendiri. dengan nada sinis, Budayawan Jakob Soemarjo menuturkan, kearifan lokal lantas menjadi liyan bagi mereka. Kearifan lokal dituduh sebagai takhayul dan mitos. Hidup masa kini harus serba logos Aristotelian. Akhirnya cara pandang “kebenaran tunggal” yang dipakai. Mau maju atau mau mundur? Mau menjadi masyarakat modern atau primitif? Percaya pada mitos atau logos? Kebenaran itu hanya satu yakni modernitas itu. Di luar itu, atau yang berseberangan dengan itu, adalah tidak benar. Kearifan lokal harus ditinggalkan kalau mau maju dan modern.

Menemukan kembali benang merah sejarah beserta perangkat tradisi, epos, ajaran, pengetahuan dan nilai-nilai warisan leluhur dari peradaban Nusantara merupakan keniscayaan di tengah kebuntuan dan kegagalan dari praktek pengelolaan hidup bersama yang tak kunjung bermakna. Bisa jadi, semua ketidakberesan yang ada saat ini karena kita abai dengan ajaran dan pitutur para leluhur dan lebih percaya dengan cara dan metode dari (tradisi) orang lain.

Logika modern, ilmu, teknologi, tidak cukup untuk memahami realitas Indonesia, karena Indonesia berada antara mitos dan logos. Bahkan cara berpikir mitos masih mendominasi cara berpikir rakyat. Bukan anti modernitas, tetapi membuat Indonesia memasuki dunia modern mondial ini memerlukan metodenya sendiri, jangan asal percaya dan menjiplak bangsa-bangsa lain. Bagaimana Anda dapat mengubah sesuatu menjadi sesuatu yang lain kalau tidak mengenali sesuatunya itu sendiri? Kebenaran universal itu memang ada, namun harus ditemukan dalam kearifan-kearifan lokal yang ribuan tahun sejarahnya.

Salah satu upaya menggali kearifan lokal Nusantara adalah dengan membuka dan mempelajari naskah lama atau manuskrip yang pernah ada. Di bumi Nusantara terdapat ribuan naskah atau manuskrip sebagai karya intelektual. Naskah ini memuat tentang ajaran moral dan tuntunan hidup, baik yang dibuat oleh seorang elit penguasa (raja), kelompok agamawan maupun masyarakat biasa. Ajaran ini diperuntukan bagi keturunan yang membuatnya maupun bagi masyarakat luas.

Salah satu kelompok etnik yang memiliki kekayaan tradisi dan terekam dalam naskah adalah kelompok etnik Sunda. Masyarakat etnik Sunda pada zaman nirleka sampai zaman klasik, sudah memiliki berbagai peraturan kemasyarakatan yang kala itu lajim disebut purbatisti purbajati atau sanghyang siksa kanda (ng) karesyian.  Di dalamnya terkandung nilai-nilai (value); nilai pengetahuan, nilai religi ‘keyakinan beragama’, nilai sosial, nilai ekonomi, nilai seni yang ditunjang oleh norma-norma dan aturan-aturan hukum. Di lingkungan masyarakat Urang Rawayan (Baduy) hal itu lazim mereka sebut “papaku”.

Identitas Naskah Amanat Galunggung

Amanat Galunggung adalah nama yang diberikan untuk sekumpulan naskah yang ditemukan di Kabuyutan Ciburuy, Kabupaten Garut, merupakan salah satu naskah tertua di Nusantara peninggalan karuhun Sunda. Naskah ini diperkirakan ditulis pada abad ke-15 pada daun lontar dan nipah sebanyak 7 lembar yang terdiri dari 13 halaman, menggunakan bahasa dan aksara Sunda Kuna. 

Di Kabuyutan Ciburuy, Garut hingga kini orang menyimpan naskah-naskah kuno. Salah satu naskah kuno yang ditemukan di kabuyutan itu—sebelum disimpan di Perpustakaan Nasional Jakarta—adalah ”Amanat Galunggung”. Nama atau judul ”Amanat Galunggung” berasal dari filolog Saleh Danasasmita, yang turut mengkaji naskah tersebut, kemudian turut mengkompilasikan hasil kajiannya dalam ”Sewaka Darma, Sanghyang Siksakandang Karesian, Amanat Galunggung” pada tahun 1987 yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Barat. Adapun Hidayat Suryalaga menyebut naskah ini dengan Amanat Prabu Guru Darmasiksa.   Penamaan ini nampaknya merujuk kepada pembuat ajaran yang terdapat pada naskah tersebut yakni Rakyan Darmasiksa, Raja ke 25 Kerajaan Sunda.

Sementara itu berdasarkan penelitian J.Noorduyn dan A.Teeuw, dua orang Sarjana Belanda, naskah ini disimpan dalam Kropak 632 bekas koleksi masyarakat Batavia. Bagian yang tersimpan hanya terdiri dari enam helai daun. Naskah ini berasal dari kabuyutan, yakni pusat kegiatan keagamaan yang bernama Ciburuy, Bayongbong, di wilayah Garut. Menurut mereka, naskah ini sebagai pelajaran keagamaan yang disampaikan oleh Rakean Darmasiksa.

Menurut Edi S Ekadjati, Isi dari Amanat Galunggung ini bukanlah tentang petunjuk teknis mengenai pemerintahan, melainkan berupa pemikiran filosofis bertalian dengan etika yang seyogyanya dipegang teguh dan dilaksanakan, terutama oleh pemimpin Negara dan pemimpin masyarakat. 
Sosok Prabu Guru Darmasiksa

Aktor utama dari ajaran yang termuat dalam amanat Galunggung adalah Prabu Guru Darmasisksa. Di dalam naskah Carita Parahyangan diceritakan, Darmasiksa, atau ada juga yang menyebut Prabu Sanghyang Wisnu memerintah selama 150 tahun. Sedangkan di dalam naskah Wangsakerta menyebut angka 122 tahun, yakni sejak tahun 1097 – 1219 Saka atau 1175 – 1297 M. Konon kabar sebagai bahan perbandingan ada 10 penguasa di Jawa Pawwatan yang sezaman dengan masa pemerintahannya. Ia naik tahta 16 tahun pasca Prabu Jayabaya (1135 – 1159) M, penguasa Kediri Jenggala Wafat, iapun memiliki kesempatan menyaksikan lahirnya Kerajaan Majapahit (1293 M).

Menurut Pustaka Nusantara II/2, Prabu Guru Darmasiksa pernah memberikan peupeujeuh – nasehat kepada cucunya, yakni Raden Wijaya, pendiri Majapahit, sebagai berikut :
Haywa ta sira kedo athawamerep ngalindih Bhumi Sunda mapan wus kinaliliran ring ki sanak ira dlaha yan ngku wus angemasi. Hetunya nagaramu wu agheng jaya santosa wruh ngawang kottman ri puyut kalisayan mwang jayacatrumu, ngke pinaka mahaprabhu. Ika hana ta daksina sakeng hyang Tunggal mwang dumadi seratanya.
Ikang sayogyanya rajyaa Jawa rajya Sunda parasparopasarpana atuntunan tangan silih asih pantara ning padulur. Yatanyan tan pratibandeng nyakrawartti rajya sowangsong. Yatanyan siddha hitasukha. Yan rajya Sunda duhkantara. Wilwatika sakopayanya maweh caranya : mangkana juga rajya Sunda ring Wilwatika.
Inti dari nasehatnya tersebut menjelaskan tentang larangan untuk tidak menyerang Sunda karena mereka bersaudara. Jika masing-masing memerintah sesuai dengan haknya maka akan mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang sempurna.

Jika diurut bibit buit Rakean Darmasiksa maka ditemukan muasal leluhurnya dari Kendan. Jika kita menyoal masalah Kendan tentunya tidak dapat dilepaskan dari Galuh, sehingga tak heran jika banyak masyarakat kita yang menafsirkan Amanat Galunggung ini terkait erat dengan nilai-nilai yang berlaku umum di Galuh pada waktu itu.

Sama halnya dengan alur Carita Parahyangan yang mengisahkan Galuh, dibuat pada abad ke 16, satu abad pasca Amanat Galunggung, naskah yang diberi nama Amanat Galunggung ini memulai ceritanya dari alur Kerajaan Saunggalah I (Kuningan) yang diperkirakan telah ada pada awal abad 8M.
Masa tersebut tentunya terkait dengan kisah perebutan tahta Galuh oleh sesama keturunan Wretikandayun, yakni antara anak-anak Mandi Minyak di satu pihak dan anak dari Sempak Waja dan Jantaka di pihak lain. Sehingga secara politis, Saunggalah merupakan alternatif untuk menyelesaikan pembagian kekuasaan di antara keturunan Wretikandayun, bahkan naskah ini menjelaskan sisi dan perkembangan keturunan Wretikandayun di luar Galuh.

Di dalam naskah Wangsakerta Bab Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa, diketahui nama Raja Saunggalah I bernama Resi Guru Demunawan. Kedudukan sebagai penguasa di wilayah tersebut diberikan oleh ayahnya, yakni Sempak Waja, putra dari Wretikandayun (pendiri Galuh). Resi Guru Demunawan merupakan kakak kandung dari Purbasora, yang pernah menjadi raja di Galuh pada 716-732M. Eksistensi dari Resi Demunawan, Sempak Waja dan Wretikandayun banyak diceritakan di dalam Carita Parahyangan, bahkan seangkatan dengan Sanjaya dan Balangantrang.

Memang Demunawan, leluhur Prabu Guru Darmasiksa memiliki keistimewaan dari saudara-saudara lainnya, baik sekandung maupun dari seluruh teureuh Kendan. Karena sekalipun tidak pernah menguasai Galuh secara fisik, namun ia mampu memperoleh gelar Resi Guru. Suatu Gelar yang tidak sembarangan bisa didapat oleh siapapun, sekalipun oleh raja-raja terkenal, tanpa memiliki sifat Satria Pinandita, bahkan pasca Salakanagara dan Tarumanagara, gelar ini hanya diperoleh Resi Guru Manikmaya, pendiri Kendan, Resi Guru Darmasiksa dan Resi Guru Niskala Wastu Kancana, Raja di Kawali.

Prabu Guru Darmasiksa pertama kali memerintah di Saunggalah I (Kuningan) kemudian memindahkan ke Saunggalah II, di daerah Tasik. Menurut kisah Bujangga Manik pada abad ke 15, lokasi lahan tersebut terletak di daerah Tasik selatan sebelah barat, bahkan kerajaan ini mampu mempertahankan kehadirannya setelah Pajajaran dan Galuh runtuh. Pada abad ke 18 nama kerajaan tersebut masih ada, namun setingkat Kabupaten, dengan nama Kabupaten Galunggung, berpusat di Singaparna. Mungkin sebab alasan sejarah penduduk Kampung Naga Salawu Tasik enggan menyebut Singaparna, merekapun tetap menyebut Galunggung untuk istilah Singaparna.

Kemudian Darmasiksa diangkat menjadi Raja di Kerajaan Sunda (Pakuan), sedangkan Saunggalah diserahkan kepada puteranya, yakni Ragasuci atau Sang Lumahing Taman.

Prabu Guru Darmasiksa adalah tokoh yang meletakkan dasar-dasar pandangan hidup secara tertulis berupa nasehat. Naskahnya disebut dengan Amanat Galunggung, disebut juga Naskah Ciburuy (nama tempat di Garut Selatan tempat ditemukannya naskah tersebut), disebut pula kropak 632, ditulis pada daun nipah sebanyak 7 lembar yang terdiri atas 13 halaman yang ditulisi menggunakan aksara Sunda Kuna.
  • Kandungan Amanat Galunggung

:: Konsepsi Kepemimpinan
Di dalam kata pengantar terjemahan naskah Amanat Galunggung menyatakan bahwa amanat Galunggung Kropak 632 menjelaskan tentang kedudukan Tri Tangtu Di Bumi yaitu, Rama-Resi-Ratu. Ketiga-tiganya mempunyai tugas yang berbeda, akan tetapi tidak dapat dipisah-pisahkan, tidak ada di antara mereka yang berkedudukan lebih tinggi dari yang lainnya. Tugasnya setara dan sama-sama mulia,  ketiga pemimpin tersebut harus bersama-sama menegakkan kebajikan dan kemuliaan melalui ucap dan perbuatan.

Pembagian tugas ini sebagaimana termuat dalam rekto III Amanat Galunggung :
Jagat Palangka di Sang Prabu,  jagat Daranan di Sang Rama,  jagat Kreta di Sang Resi.    Dunia kemakmuran tanggung jawab sang Rama, Dunia kesejahteraan hidup tanggung jawab sang Resi, Dunia pemerintahan tanggung jawab sang Prabu/Ratu.

Rama : Representasi dari unsur Tuhan yang dimanifestasikan dalam tugas Rama yaitu bidang Spritual, di mana seorang rama ini adalah manusia yang sudah meninggalkan kepentingan yang bersifat duniawi dan lahiriah, sehingga bisa menjaga rasa asih yang tinggi dan bijaksana.

Resi : Representasi dari unsur alam yang merupakan penyedia bagi kepentinagn kehidupan , maka para Resi merupakan ahli-ahli atau guru-guru di dalam bidang-bidang di antaranya pendidikan, militer ,pertanian, seni, perdagangan, dan lain sebagainya. Misinya adalah Asah.

Ratu : Representasi unsur manusia yang bertugas untuk mengasuh seluruh kegiatan dan kekayaan negara. Karena misinya adalah Asuh, maka di dalam tatanan Sunda para pemimpin ini disebut Pamong atau Pangereh dan bukan Pemerintah.

  • Kesadaran Sejarah
Dalam Amanat Galunggung ini membeberkan ajaran moral dan aturan sosial yang harus dipatuhi oleh urang Sunda. Namun, dalam naskah Amanat Galunggung ini terdapat baris-baris kalimat yang menyatakan pentingnya masa lalu sebagai “tunggak” (tonggak) atau “tunggul” untuk masa berikutnya, maka dari itu seyogyanya generasi kini harus tetap menghormati nilai-nilai yang diwarisi generasi sebelumnya. Berikut petikan dan terjemahannya:
Hana nguni hana mangke
tan hana nguni tan hana mangke
aya ma beuheula aya tu ayeuna
hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna
hana tunggak hana watang
tan hana tunggak tan hana watang
hana ma tunggulna aya tu catangna
(Ada dahulu ada sekarang
bila tidak ada dahulu tidak akan ada sekarang
karena ada masa silam maka ada masa kini
bila tidak ada masa silam tidak akan ada masa kini
ada tonggak tentu ada batang
bila tidak ada tonggak tidak akan ada batang
bila ada tunggulnya tentu ada catangnya)
Jangan menjadi bangsa yang ahistoris !


  • Kabuyutan
Dalam kajiannya, Hidayat Suryalaga mengidentifikasi salah satu muatan yang terkandung dalam naskah Amanat Galunggung di antaranya keharusan untuk menjaga kabuyutan dan pengaruh dari pihak luar (asing). Di antara ucapan Prabu Guru ini termuat dalam Verso I :
-Jaga beunangna kabuyutan ku sakalih (Jaga direbutnya /dikuasainya tanah laluhur oleh orang lain).
-Banyaga nu dek ngarebut kabuyutan (Akan banyak para pedagang yang ingin merebut tanah leluhur).
-Asing iya nu meunangkeun kabuyutan, (Yakni orang-orang Asing yang ingin merebut tanah leluhur).
-Mulyana kulit lasun di jaryan, modalna rajaputra antukna beunang ku sakalih (Lebih berharga kulit musang ditempat sampah daripada Rajaputra tidak mampu mempertahankan tanah leluhur yang direbut orang lain).

Hidayat mengartikan kabuyutan ini sebagai tanah air. Bila kabuyutan diartikan sebagai tanah air dari orang-orang yang hidup di dalamnya maka Darmasiksa dalam naskah Amanat Galunggung sedang berbicara tentang hal yang pokok (syarat keberadaan) dari sebuah masyarakat (yang disebut masyarakat Galunggung), yaitu kawasan. Dengan kata lain, Darmasiksa melalui teks di atas sedang mengatakan bahwasanya tanpa kepenuhan dalam hal penguasaan wilayahnya sendiri, masyarakat Galunggung bahkan lebih hina daripada kulit rubah (lasun). Menjadi jelas, dalam pemahaman Darmasiksa, wilayah/tanah air adalah hal yang paling fundamen dari sebuah masyarakat/ suku/bangsa. Dengan kata lain, tak mungkin ada sebuah masyarakat tanpa ada wilayah. 

Dari naskah ini diketahui juga peran Kabuyutan, bukan hanya sebagai tempat pemujaan, melainkan dijadikan sebagai salah satu cara penopang integritas terhadap Negara, sehingga tempat itu dilindungi oleh raja dan disakralkan.

  • Kesimpulan
Amanat Galunggung merupakan sekumpulan naskah yang memuat tentang ajaran yang dicetuskan oleh salah satu Raja Sunda bernama Prabuguru Darmasiksa berisi tentang ajaran-ajaran untuk dijadikan pegangan hidup keturunan sang prabuguru serta masyarakat Sunda pada umumnya. NaskahAmanat Galunggung memuat nilai dan tuntunan moral dalam kerangka sistem sosial masyarakat, di antaranya :

- Konsepsi kepemimpinan yang dinamakan dengan Tri Tangtu Di Bumi yaitu, Rama-Resi-Ratu.
- Amanat Galunggung menekankan pentingya kesadaran sejarah, penghormatan terhadap leluhur beserta nilai-nilai ajarannya. 
- Keharusan menjaga kabuyutan dan membentenginya dari pengaruh dari dunia luar (bangsa asing).

POST HEGEMONY II : Nekolim Abad Ke-21 Dibalik Politik Isu HAM - Tamat

VI. Problem Serius  Masyarakat  di era Global

Di tengah arus perubahan besar  era global sebagaimana terurai di muka,   masyarakat Indonesia yang  dikenal sebagai komunitas tradisional yang hidup guyub-rukun, sederhana, rajin, gotong-royong,  religius, dan meyakini bahwa negara beserta aparaturnya adalah wahana suci yang bakal membawa keadilan dan kemakmuran bagi mereka, ternyata telah terlempar ke suatu kenyataan hidup yang menyedihkan sebagai komunitas bangsa dari negara pinggiran (periphery) yang miskin, terlilit utang luar negeri, tidak memiliki cukup aset  nasional lagi,  tidak memiliki wacana independen, dan sangat tergantung kepada negara-negara industri maju yang menjadi negara pusat (core). Fakta menunjuk,bangsa Indonesia, yang secara ideal di dalam preambule UUD 1945 dikatakan bebas dan berdaulat, ternyata telah berubah menjadi komunitas buruh bermental cargo cult  sekaligus konsumen utama dari arus barang-barang produksi dari negara-negara kapitalis global, yang ironisnya diproduksi dari kekayaan alam Indonesia.

Tampaknya, di dalam sistem ekonomi pasar bebas yang menandai era global, masyarakat Indonesia tanpa sadar telah terseret oleh arus barang-barang dan produk-produk ciptaan kapitalis global. Akibat dari sistem pasar bebas itu,  tanpa sadar bagian terbesar masyarakat Indonesia telah terperangkap ke dalam lingkaran sistem konsumsi  berdasar  utang yang sengaja ditebar lewat counter-counter hp, developer perumahan, showroom motor dan mobil, toko elektronik, toko computer, toko khusus kredit, bank perkreditan rakyat, dsb. Dalam konteks inilah, terjadi proses pemelaratan masyarakat Indonesia, di mana rata-rata masyarakat Indonesia terlilit lingkaran setan utang bunga-berbunga yang tak diketahui ujung dan pangkalnya.

Di tengah arus globalisasi, anak-anak bangsa yang idealnya terhormat dan bermartabat terbukti jatuh terpuruk dalam kehinaan –  akibat  kebijakan pemerintah yang terkait ketenaga-kerjaan --  di mana mereka itu dari waktu ke waktu mengalir ke luar negeri sebagai tenaga kerja rendahan berstatus  jongos, kacung, babu, kuli, pelayan, babby sitter, tukang, sopir,  dan buruh kasar. Anak-anak bangsa yang berusaha melakukan survival of the fittest di negeri sendiri dengan menjadi pedagang kaki lima, misal, harus menghadapi kekerasan dan penistaan oleh petugas ketentraman dan ketertiban. Bahkan usaha kecil menengah yang dirintis anak-anak bangsa dalam usaha bertahan hidup, dipaksa untuk gulung tikar oleh kebijakan-kebijakan sepihak yang dilakukan oleh pemerintah dalam bentuk peraturan-peraturan yang memihak kepada pemilik kapital raksasa dan anti modal gurem. Melalui perundang-undangan dan peraturan-peraturan yang dibikin elit legislatif maupun eksekutif – yang selalu mengatas-namakan kepentingan rakyat – terjadi diskriminasi terhadap orang-orang tak terdidik dan tak berkapital.

Fakta menunjuk, bahwa di era global bagian terbesar dari bangsa Indonesia yang dididik di sekolah  tidak mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi karena berbagai alasan yang intinya adalah diskriminasi terhadap individu-individu tak berkapital. Tragisnya, mereka itu  rata-rata tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi tantangan realita sesuai tuntutan golbalisasi, di mana mereka itu akhirnya dipaksa oleh keharusan untuk menjadi  penganggur, gelandangan, pengemis, pengamen, polisi cepek, tukang parkir, tukang tagih, preman, pengguna narkoba, pelaku kriminalitas, dsb.  Jumlah mereka ini,  makin lama akan makin membesar yang jika tidak dicarikan jalan keluar akan meledak menjadi konflik sosial bersifat anarkis. Tampaknya, inilah problem serius yang harus dipecahkan oleh anak-anak bangsa Indonesia di era global yang sangat liberal, di mana bagian terbesar saudara-saudara mereka berada pada kondisi   ibarat kawanan anak-anak ayam kehilangan  induk yang berlari tak tentu arah untuk menghadapi tuntutan hukum alam – survival of the fittest – yang bermuara ke satu fenomena mendasar, yaitu : mampu bertahan hidup atau punah!



DAFTAR PUSTAKA 

Baudrillard, J., In The Shadow of the Silent Majorities, New York: Semiotext (e), 1983.
Bartolovich, C & Neil Lazarus, Marxism, Modernity and Postcolonial Studies, Cambridge:Cambridge University Press, 2002.
Chase-Dunn, C., Global Formation: Structures of the World-Economy, 1998.
Chomsky, N., Hegemony or Survival: America’s Quest for Global Dominance, Crows NestNSW: Allen & Unwin, 2004
Davidson, H.R.E., Gods and Myths of Northern Europe, New York: Penguin Books, 1982.
Grimes, P., “Recent Research on World Systems” dalam Thomas D. Hull (ed.), A World Systems Reader: New Perspective on Gender, Urbanism, Cultures, Indigenous Peoples, andEcology, 2000
Hadjinicolaou, N., Art History & Class Struggle, London: PlutoPress,  1978.
Hull, T.D., “World-Systems Analysis: A Small Sample from a Large Universe” dalam Thomas D.Hull (ed.), A World Systems Reader: New Perspective on Gender, Urbanism, Cultures,Indigenous  Peoples, and Ecology, 2000.
Huntington, Samuel P., The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, London:Touchstone Books, 1996.
O’Connor, J., ‘The Meaning of Economic Imperialism’, dalam Michael Smith dkk (eds.),Perspective  on World Politics, 1981.
Ritzer, G., Sociological Theory, New York: McGraw Hill Company, 1996.
Rowbotham, M., Goodbye America: Globalisation, Debt and The Dollar Empire, 2000.
Sartre, J. P., Existensialism and Human Emotion, New York: Philosophical Library, 1964.
Soros, G., On Soros : Staying Ahead of The Curve, New York: John Willey & Sons, 1995.
Tuathail, G. O. & Simon Dalby, Rethinking Geopolitics, 1998.
Wahid, H., Telikungan Kapitalisme Global Dalam Sejarah Kebangsaan Indonesia, Yogyakarta:LKiS, 1999.
Wallerstein, Immanuel, The Modern World System II: Mercantilism and the Consolidation of the European World Economy 1600- 1750, London: Academic Press, 1980.
__________________, The Modern World System III: The Second Era of Great Expansion of The Capitalist World Economy 1730-1840s,  London: Academic Press, 1989.